Minggu, 22 Desember 2013

Perkembangan Islam Masa Modern / XI Genap



A.Perkembangan Ajaran Islam dan Ilmu pengetahuan
      1.Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahab
Apabila berbicara tentang Islam di masa modern, maka kita tidak akan dapat terlepas dari bahasan pemikiran pembaharuan Wahabi. Gerakan ini sangat erat dengan tokoh pembaharuan pada abad 14 dikenal dengan sebutan Ibnu Taimiyyah (1263 – 1328 M). Beliau seorang tokoh inspirator gerakan Wahabi, ia tidak setuju sufisme,bid’ah dan khurafah. Ia menentang taklid buta dan mewajibkan membuka pintu ijtihad.(yang telah dianggap telah tertutup oleh ulama sebelumnya). Ia menafikan berlakunya ijma’ selepas zaman sahabat yang dipandang sebagai sumber hukum. Ibnu Taimiyyah menggunakan Al qur’an dan hadits sebagai sumber Islam yang utama .
Pada abad ke 18 di Tanah Arab muncul pengikut faham Ibnu Taimiyyah yang bernama Muhammad bin Abdil Wahab beliau dikenal sebagai pemimpin gerakan pemikiran yang disebut Wahabiyah .
Prinsip pokok gerakan Wahabi adalah :
1.   Bertauhid secara murni hanya kepada Allah swt.
2.   Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits serta mengecam taqlid buta.
3.   Mengobarkan semangat berijtihad
      Komentar kami,”Ijtihad yang telah dilakukan oleh “para mujtahid terdahulu” yang telah sampai pada titik klimaknya mengandung kebenaran yang tak terbantahkan. Ijtihad yang dilakukan oleh “para mujtahid kemudian” tentang masalah yang sama yang telah  diputuskan oleh para mujtahid terdahulu akan sia-sia belaka (menyesatkan umat).
      Ijtihad masih terbuka bagi masalah baru, masalah yang belum tersentuh akan ketentuan hukumnya oleh mujtahid terdahulu.

2.Jamaluddin Al-Afghani
Beliau adalah seorang pemimpin pembaharuan Islam yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal.
Ketika di Mesir pada tahun 1879 beliau memprakarsai terbentuknya partai Al Hizbul Wathani (Partai Nasional) tujuan partai ini adalah memperjuangkan pendidikan secara universal, kemerdekaan pers, Islam dalam pandangan beliau menghendaki pemerintahan republik, pemikiran pembaharuannya berdasarkan atas keyakinan bahwa Islam adalah agama yang sesuai untuk semua bangsa, semua zaman dan keadaan, beliau menekankan pada umat Islam agar membersihkan diri dari unsur-unsur luar Islam yang merusak . Umat Islam harus berpikiran maju dan modern, yaitu bersatu untuk mempertahankan kesucian dan kemurnian Islam. Disamping itu Al-Afghani juga sangat menentang aliran materialisme kaum Dahriyin (materialisme-atheis).
Akibat tekanan penjajah Inggris Jamaluddin Al-Afghani pindah ke Paris di kota ini beliau mendirikan perkumpulan Al-'Urwatul Wushqo dan menerbitkan majalah dengan nama yang sama dengan perkumpulannya.

3. Muhammad Abduh
Dalam ketatanegaraan Muhammad Abduh berpendapat bahwa kekuasaan Negara harus dibatasi. Pada zamannya mesir telah mempunyai konstitusi dan usahanya waktu itu tertuju kepada membangkitkan kesadaran rakyat terhadap hak-hak mereka. Menurut pendapatnya, pemerintah wajib bersikap adil terhadap rakyat. Dan hanya terhadap pemerintah seperti inilah rakyat harus patuh dan setia.
Menurut Abduh, kepala Negara adalah manusia yang dapat berbuat salah dan di pengaruhi oleh hawa nafsunya. Untuk menekan hal tersebut dibutuhkan kesadaran dan aspirasi rakyat, dan menurutnya kesadaran rakyat dapat di bangun melalui pendidikan di sekolah-sekolah, penerangan dalam surat kabar dan sebagainya.

4. Rasyid Ridha
Beliau adalah salah seorang murid Muhammad Abduh. Ia banyak di pengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin Al-Afghoni dan Muhammad Abduh melalui majalah Al-Urwatul Wusqa. Yang kemudian di Mesir beliau mendirikan majalah Al-Manar yang mempunyai tujuan yang sama dengan Al-Urwatu Wusqa yaitu untuk mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, sosial, dan ekonomi, memberantas tahayul dan bid’ah-bid’ah yang masuk dalam tubuh Islam, menghilangkan paham fatalisme yang terdapat di kalangan umat Islam, meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam terhadap permainan politik negara barat.

B. Pengaruh Perkembangan Pemikiran Modern Islam
Pada mulanya, gerakan Wahabi banyak mendapat tantangan dari berbagai kelompok masyarakat Islam, karena metode yang diterapkan terlalu keras dan tidak mengenal kompromi terhadap praktek-praktek bid’ah. Kaum kolonial tidak menyukai gerakan ini, karena membahayakan bagi upaya kolonialisme. Sebab tidak menutup kemungkinan semangat juang umat Islam bangkit melawan penjajah melalui proses pemurnian tauhid yang diajarkan gerakan Wahabi.
Namun demikian, gerakan Wahabi terus melakuakan kosolidasi dengan mendapat dukungan penuh dari Kerajaan Sa’ud, sebuah pemerintah dimana gerakan ini lahir dan berkembang. Bahkan pada fase berikutnya, ide-ide gerakan ini banyak mempengaruhi pemikir-pemikir para tokoh agama di negara-negara lain tak terkecuali kawasan nusantara.
Di antara gerakan-gerakan yang terpengaruh dengan faham wahabi adalah gerakan yang dipimpin Al-Sanusi di Libiya pada abad ke-19 yang memprotes kerajaan Turki Utsmani karena di nilai telah menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya dan juga gerakan Al-Mahdi di Sudan yang memberontak terhadap pemerintahan Turki-Mesir yang di pandang telah menyimpang dari ajaran Islam.
Sementara di Nusantara, gerakan  Padri di Sumatra barat yang dipimpin oleh tiga orang yang baru datang menunaikan ibadah haji, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang. Mereka mengembangkan dan menyebarkan paham ini di daerah masing-masing. Mereka berjuang membasmi segala praktek bid’ah dan khurofat serta menghapus kebiasaan minum tuak, menghisap madat, menyabung ayam, berjudi, dan praktek praktek lai yang dianggap bid’ah. Menurut ajaran gerakan ini, kaum perempuan diwajibkan menutup seluruh bagian tubuh, dan lelaki diharuskan memelihara jenggot dan memakai sorban. Kaum Padri biasanya memakai pakaian putih, karena itu mereka disebut juga “Kaum Putih”.
Mengenai ide Pan Islamisme Jamaluddin Al-Afghani, maka tujuannya adalah untuk mempertahankan Islam dari serangan barat. Gerakan ini bertujuan mempersatukan pemerintahan Islam dan membangkitkannya dalam rangka melawan kolonialisme barat.
Umat Islam harus berfikiran maju dan modern dengan cara bersatu untuk mempertahankan kesucian dan kemurnian Islam.
Berbeda dengan faham dalam gerakan Wahabi, gerakan pembaharuan Abduh dalam menjalankan cita-citanya tidak  selalu berkontrofersi dengan barat. Abduh menganjurkan umat Islam agar megambil pengetahuan dan teknologi barat selama bermanfaat bagi umat Islam. Ia membedakan mana unsur peradaban yang bermanfaat dan mana yang merusak bagi umat Islam. Peradaban yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan Islam seharusnya diambil, sebaliknya yang tidak berguna dan bertentangan dengan Islam harus di tolak secara tegas.
Pemikiran-pemikiran modern yang disampaikan Rasyid Ridha, tidak banyak berbeda dengan ide-ide Muhammad Abduh dan Jamluddin Al-Afghani. Ia berpendapat bahwa umat Islam mundur karena tidak lagi menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Dan dalam masalah kenegaraan ia berpendapat bahwa paham nasionalisme bertentangan dengan ajaran Islam Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam). Persaudaraan dalam Islam tidak mengenal perbedaan bahasa, perbedaan tanah air maupun perbedaan bangsa. Semua umat bersatu dibawah satu keyakinan, satu system moral dan satu system pendidikan dan tunduk pada satu system hukum.
Negara yang dianjurkan Rasyid adalah Negara dalam bentuk kekhalifahan. Kepala Negara ialah khalifah. Dan khalifah sebagai pihak yang mempunyai kekuasaan legeslatif, harus mempunyai sifat mujtahid. Namun demikian pemerintah tidak boleh bersifat absolute. Oleh karena itu, khalifah harus melibatkan para ulama sebagai pembantu-pembantunya yang utama dalam urusan memerintah umat.




Dakwah dan Tabligh / XI Genap



A.    Pengertian Dakwah dan Tabligh
Menurut arti bahasa, dakwah adalah seruan, panggilan, ataupun undangan. Adapun menurut arti istilah, dakwah adalah menyeru atau mengajak manusia untuk melakukan kebaikan dan melarang mereka dan perbuatan mungkar yang dilarang oleh Allah swt maupun rasul-Nya agar mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.
Selain istilah dakwah, ada pula istilah lain dalam terminologi Islam yang sering digunakan untuk praktik penyebaran dan penyeruan ajaran agama Islam kepada orang lain, yakni tabligh. Tabligh berasal dan kata ballagha, yang artinya menyampaikan. Tabligh termasuk salah satu sifat wajib bagi para rasul. Allah swt mewajibkan para Rasul untuk menyampaikan ajaran agama kepada umat manusia. Walaupun demikian, tidak berarti kaum muslimin tidak memiliki kewajiban untuk melakukan tabligh maupun dakwah Islamiyyah. Karena pada hakikatnya Rasulullah saw pernah bersabda bahwa setiap kaum muslimin diperintahkan untuk menyampaikan pesan agama kepada pihak lain walaupun hanya satu ayat.
Salah satu tujuan dakwah atau tabligh adalah untuk mengubah pandangan hidup. Dalam Al-Qur’an Allah swt telah mengisyaratkan bahwa tujuan dakwah adalah untuk menyadarkan manusia terhadap arti hidup yang sebenarnya. Hidup bukan hanya untuk makan, minum atau tidur, melainkan manusia dituntut untuk mampu memaknai kehidupannya dalam pengertian yang positif. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Anfal (8) ayat 24 berikut ini :
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfaal: 24).
Selain untuk menyadarkan manusia akan arti hidupnya, dakwah atau tabligh juga bertujuan untuk mengeluarkan manusia dan kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah swt. berikut ini :
"Alif, lam, ra (Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji” (Q.S. Ibrahim  / 14:1).
B.     Metode Tabligh dan Dakwah Islamiyyah
Fenomena tabligh maupun dakwah Islamiyyah yang dijumpai dewasa ini sebenarnya masih dalam tahap awal. Pada umumnya, umat Islam saat ini masih membutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap makna dakwah itu sendiri. Hal ini disebabkan umat Islam masih kurang menguasai prinsip-prinsip dan sifat dakwah yang diajarkan Islam. Oleh karena itu, kita harus lebih giat mempelajari manhaj atau metode dakwah yang telah diajarkan Islam melalui Rasulullah saw dan para shohabatnya. Rasulullah saw mengajarkan kepada para shohabatnya untuk menerapkan metode dakwah yang anti kekerasan, yakni dengan menggunakan hikmah. Dalam berdakwah, Rasulullah saw memerintahkan kepada juru dakwah untuk menyampaikan pesan-pesan agama yang baik dan tentu dengan cara penyampaian yang tidak provokatif atau dengan cara-cara kekerasan. Hal ini sebagaimana terungkap dalam firman Allah swt berikut ini :
.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nal/16:125)
Di dalam ayat yang lain Allah swt juga telah menjelaskan sebagai berikut :
.
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu....” (Q.S. Ali ‘Imran/3:l59).

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami dengan sangat jelas bahwa dalam berdakwah, seorang da’i tidak diperbolehkan menggunakan cara-cara kasar yang membuat jama’ah menjauh, baik kasar secara perkataan, kasar secara sikap maupun perbuatan. Dakwah hanya dibenarkan dengan lemah lembut dan dengan menerapkan cara-cara yang simpatik. Oleh karena itu, metode dakwah yang dikembangkan tidak hanya dakwah dengan menggunakan seruan (bil-lisan), tetapi juga dakwah dengan memberikan suri teladan yang baik (bil hal).
Salah satu metode yang diterapkan dalam misi dakwah adalah memerintahkan yang baik dan mencegah yang mungkar atau terkenal dengan sebutan (amar ma’ruf nahi munkar). Namun, bukan berarti metode ini menghalalkan cara-cara yang radikal, melainkan harus dengan strategi yang halus dan menggunakan metode bertahap (tadarruj) agar tidak menimbulkan permusuhan dan keresahan di masyarakat. Penentuan strategi dan metode amar ma’ruf nahi munkar harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat yang dihadapi. Hal ini bertujuan agar seorang da’i tidak membuat suatu kesalahan dalam menyampaikan amar ma’uf nahi munkar sehingga akan mengakibatkan kerusakan dalam satu umat yang menimbulkan kerugian besar.
Ada beberapa hal yang hams diperhatikan oleh seorang da’i dalam menyampaikan dakwahnya, di antaranya adalah :
1)      Hendaknya dilakukan dengan cara yang ihsan (baik) agar tidak berubah menjadi ajang pembongkaran aib dan menyinggung perasaan orang lain.
2)      Sebelum memperbaiki orang lain hendaknya, seorang da’i berintrospeksi dan berbenah diri agar menjadi teladan umatnya.
3)      Dalam menyampaikan dakwah hendaknya disandarkan pada keikhlasan karena mengharap ridha Allah.
4)      Da’wah hendaknya dilakukan menurut Al-Qur’an dan sunnah, serta dipraktikkan di alam kehidupan bermasyarakat secara berkesinambungan.

C.    Kelemahan Tabligh dan Dakwah Islamiyyah
            Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, ada dua bentuk dakwah yang sepatutnya dipraktikkan oleh setiap da’i, yakni dakwah bil-lisan dan bil-hal Bahkan keduanya harus selalu dipadukan. Apabila hal ini tidak dipadukan maka ruh dakwah ini menjadi kosong dan terkesan dakwah tersebut hanya berorientasi pada omongan saja. Inilah yang menjadi salah satu kelemahan dakwah. Padahal orang-orang miskin bukan hanya perlu ceramah, melainkan juga membutuhkan makan serta uang untuk menyekolahkan anaknya. Bukankah seorang khalifah ‘Umar ra. rela memikul sendiri sekarung makanan ke rumah rakyatnya yang sedang kelaparan? Mengapa kaum muslinin yang jumlahnya mayoritas di negeri kita ini tidak bahu-membahu untuk mengentaskan kemiskinan yang berada di sekeliling mereka? Bukankah Islam menganjurkan agar umatnya memberikan bantuan kepada kaum fakir miskin, maupun orang-orang yang berjuang di jalan Allah dengan cara berzakat, infak, dan sadaqah?
            Adapun kelemahan dakwah yang lain biasanya tidak dilakukan secara terus-menerus. Bukankah dakwah pada hakikatnya melakukan tugas amar ma ‘nif nahi munkar? Konsisten dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar merupakan hal yang sangat penting dan merupakan suatu keharusan. Sebab jika ditinggalkan oleh individu, apalagi oleh juru dakwah, maka akan berakibat fatal dan akan menghancurkan sistem dan tatanan masyarakat. Kita harus menyadari bahwa masyarakat itu diibaratkan suatu bangunan. Jika ada gangguan yang muncul di salah satu bagian, maka akan menimbulkan ketidak-harmonisan pada bagian yang lainnya.
Mengenai hal ini Rasulullah saw memberikan perumpamaan dalam sabdanya sebagai berikut, “Perumpamaan orang-orang yang mematuhi larangan Allah dan yang melanggar, ibarat suatu kaum yang berundi di dalam kapal. Di antara mereka ada yang di bawah. Orang-orang yang ada di bawah jika hendak mengambil air harus melewati orang-orang yang ada di atas mereka. Akhirnya mereka berkata, jika kita melubangi kapal di bagian kita, niscaya kita tidak akan mengganggu orang yang di atas kaki. Jika orang yang di atas membiarkan mereka melubangi kapal, niscaya semua akan binasa. Tetapi jika orang yang di atas mencegah, maka mereka dan semuannya akan selamat.”
Melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan metode dakwah yang tepat, akan menghantarkan dan menyajikan ajaran Islam secara sempurna. Oleh kanena itu, metode yang diterapkan dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar sebaiknya berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan situasi masyarakat yang sedang dihadapi pada da’i. Amar ma’ruf nahi munkar tidak bertujuan memaksa seseorang untuk tunduk kepada ajaran agama, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam tidak dibenarkan menyebarkan ajaran agama dengan disertai unsur paksaan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qun’an surah Al-Baqarah (2) ayat 256 Allah swt telah berfirman :
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat ....“  (Q.S. Al-Baqarah/2:256).
Dalam menyampaikan dakwah, para da’i dituntut memiliki tanggung jawab yang tinggi, baik kepada Allah maupun masyarakat dan negara. Bertanggung jawab kepada Allah, maksudnya bahwa dakwah yang ia lakukan harus benar-benar ikhlas dan sejalan dengan apa yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw bertanggung jawab kepada masyarakat atau umat, maksudnya bahwa dakwah islamiyah memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial umat. Bertanggung jawab kepada negara mengandung arti bahwa pengemban risalah senantiasa memperhatikan kaidah hukum yang berlaku di negara di mana ia berdakwah. Jika dakwah dilakukan tanpa mengindahkan hukum dan perundang-undangan yang berlaku dalam sebuah negara, maka kelancaran dakwah itu sendiri akan terhambat dan bisa kehilangan simpati dari masyarakat.
D.    Khutbah
            Salah satu di antara bentuk dakwah kepada umat adalah dengan cara khutbah. Namun khutbah hanya disampaikan pada momen-momen khusus yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam, seperti ketika sholat Jumat, sholat hari raya atau sholat gerhana. Dalam khutbah dikenal seseorang yang disebut khotib, yakni orang yang menyampaikan khutbah berupa pelajaran maupun nasihat kepada kaum muslimin. Dalam khutbahnya, khotib mengingatkan jama’ah agar lebih meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt.
            Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan oleh khotib, antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui syarat, rukun dan sunah khutbah.
2.      Fasih dalam melafazkan bacaan Al-Qur’an dan hadits.
3.      Berpakaian rapi, sopan dan berpenampilan baik.
4.      Suaranya jelas, keras dengan bahasa yang baik, sopan dan dapat dipahami oleh jama’ah.
5.      Telah mencapai usia akil balig.
6.      Memiliki akhlak yang baik.
7.      Dilandasi niat yang baik dan ikhlas.
Dalam pelajaran ini, tidak akan mengulas seluruh macam-macam khutbah, namun lebih berkonsentrasi pada pembahasan khutbah Jumat.
1.   Syarat-Syarat Khutbah Jum’at adalah sebagai berikut :
  1. Hendaklah kedua khutbah itu (Khutbah bagian pertama dan bagian kedua) dimulai sesudah tergelincir matahari (masuk waktu Zuhur).
  2. Sewaktu berkhutbah hendaklah berdiri jika kuasa.
  3. Khotib hendaklah duduk di antara dua khutbah, sekurang-kurangnya berhenti sebentar.
  4. Hendaklah dengan suara keras yang kira-kira terdengar oleh jama’ah. Karena maksud khutbah ialah untuk memberi pelajaran dan nasihat kepada jama’ah.
  5. Tertib dalam melaksanakan rukunnya.
  6. Khotib harus suci dari hadas dan najis.
  7. Khotib hendaklah menutup aurat

            Mengenai masalah bahasa yang digunakan dalam khutbah, sebagian ulama berpendapat bahwa khutbah hendaknya dengan menggunakan bahasa Arab, karena di masa Rasulullah saw dan shohabatnya khutbah selalu dengan bahasa Arab. Dan bahasa Arab ini merupakan bahasa persatuan umat Islam yang harus ditegakkan. Tetapi ulama yang lain berpendapat bahwa khutbah hendaknya dengan bahasa yang dimengerti oleh para jama’ah.

2.      Rukun Khutbah adalah sebagai berikut :
  1. Mengucapkan pujian kepada Allah swt.
  2. Mengucapkan kalimat syahadat. Rasulullah saw bersabda :
  3.  
عن أبى هريرة عن النـبى صلى الله عليه وسلم قال كـلُ خُطْـبَةٍ لَيْسَ فيـها تَـشُـهُّـدٌ فهي كَـاليَدِالجَذمَاءِ (رواه أحمد وأبو داود)
            “Abi Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda, ‘Tiap-tiap khutbah yang tidak ada syahadatnya adalah seperti tangan yang terpotong/buntung.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud).
c.   Membaca salawat atas Nabi saw
d.      Berwasiat (memberikan nasihat) tentang takwa dan memberikan pelajaran yang diperlukan jama’ah sesuai dengan keadaan, tempat dan waktu.
e.       Membaca ayat Al-Qur’an dalam salah satu dan kedua khutbah.
f.       Berdoa untuk kaum muslimin agar diampuni segala dosa mereka dan diselamatkan di dalam hidupnya serta bahagia dunia dan akhirat.
3.      Sunah Khutbah
a.       Khutbah disampaikan di mimbar atau di tempat yang lebih tinggi daripada jama’ah.
b.      Khutbah diucapkan dengan kalimnat yang fasih, jelas, dan mudah dipahami.
c.       Isi khutbah tidak terlalu panjang, tapi juga tidak terlalu pendek. Hadlis Nabi saw :
عن عبد الله بن أبي أوفى قـال كـان النـبي صلى الله وسلـم يـُكْـثِرُ الذِكْرَ وَيـُقِلُّ اللََـغْوَ ويـُطِيلُ الصلاةَ وَيُـقصِرُ الخُـطْبَةَ (رواه الدارمى)
Abdullah bin Aufa, dia berkara, “Nabi saw memperpanjang zikir dan mempersedikit hal kurang bermanfaat, memanjangkan sholat dan memendekkan khutbahnya.” (H.R. Ad-Dirinii).
d.      Khotib hendaklah tetap menghadap jama’ah dan jangan berputar-putar.
e.       Menertibkan tiga rukun, yaitu dimulai dengan membaca pujian kepada Allah, kemudian salawat atas Nabi saw dan setelah itu berwasiat takwa.
4.      Fungsi Khutbah
a.       Mengingatkan kaum muslimin agar lebih meningkatkan iman dan takwa kepada Allah
b.   Mendorong umat Islam agar selalu beramal saleh dan amar ma’ruf nahi munkar.
d.      Meningatkan kaum muslimin agar lebih meningkatkan akhlaqul karimah dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
e.       Mengingatkan kaum muslimin agar lebih meningkatkan ukhuwah islamiyyah, dan meningkatkan rasa solidaritas terhadap sesama.
f.       Mendonong kaum muslimin agar rajin bekerja untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebuah Hadits untuk memperingatkan ma’mum sebelum pelaksanaan khutbah Jum’ah :

يَامَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ المُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهْ ! رُوِيَ عَنْ أبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَ سَلـََّمَ قََالْ: إذَا قُلتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَالإِ مَامُ يَخْطُبُ فَقَـَدْ لَغَـوْتَ. اَنْصِتُـوْا وَاسْمَعُـوْا وَأطِيعُـوْا رَحِمَكُمُ الله ! اَنْصِتـُوْا وَاسْمَعُـوْا وَأطِيْعُـوْا لَعَـلَّـكُمْ تُرْحَمُوْن!

“ Hai jama’ah kaum muslimin dan kumpulan kaum mu’minin semoga Allah merohmati kalian ! Diriwayatkan dari Abi Huroiroh semoga Allah ridlo padanya, bahwasanya Rosulullah saw bersabda :“Apabila kamu berkata diam kepada temanmu di hari Jum’ah, ketika imam berkhutbah, maka sungguh kamu sia-sia .” Maka diamlah kalian, dengarkanlah, dan taatlah ! semoga Allah merohmati kalian. “

Perawatan Jenazah / XI Genap



A.  Kewajiban Kaum Muslimin terhadap Jenazah
Kewajiban kaum muslimin terhadap jenazah Islam ada empat hal, yaitu memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa tata cara mengurus jenazah.

B.     Cara Memandikan Jenazah
Dalam memandikan jenazah yang kita harus perhatikan, di antaranya berikut ini :
1.      Syarat-syarat Jenazah yang Harus Dimandikan
Ada beberapa syarat jenazah yang harus dimandikan antara lain :
a.       Jenazah adalah orang yang beragama Islam;
b.      Jenazah yang menjadi rusak bila kena air, maka cukup ditayamumkan saja.
c.       Wujud badan atau anggota badannva masih ada, walaupun hanya sebagian;
d.      Jenazah itu bukan orang yang mati syahid dalam peperangan membela agama Islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadits :
عن جابر بن عـبـد الله رضي الله عنـهما قـال ....... وأمَرَ بـِــدَفنِـهم فـي دِ مَائـِهم ولـم يُغَسَّـلُوْا ولم يُصَلَّ عليـهم (رواه البخاري)
            “Dari Jabir bin ‘Abdullah ra, dia berkata, … “Dan Nabi telah memerintahkan supaya menguburkan (orang-orang yang gugur dalam perang Uhud) dengan darah mereka, tanpa memandikan dan menyalatinya.” (H.R. Al-Bukori)

2.      Cara Memandikan Jenazah
Cara-cara memandikan jenazah adalah sebagai berikut :
a)      Jenazah ditempatkan di tempat yang terlindung dari panas matahari, hujan atau pandangan orang banyak (tertutup).
b)      Jenazah diletakkan pada tempat yang lebih tinggi seperti ranjang atau tempat khusus untuk memandikan jenazah.
c)   Jenazah diberi pakaian mandi seperti sarung atau kain agar mudah memandikannya dan agar auratnya tertutup. Orang yang memandikan hendaknya memakai sarung tangan.
d)   Bersihkanlah setiap kotoran dan najis yang melekat pada anggota badan jenazah.
e)      Jenazah diangkat (agak didudukkan) perutnya, agar kotoran yang mungkin ada di dalam perut dapat keluar.
f)       Kotoran yang ada pada kuku jari-jari tangan dan kaki dibersihkan, termasuk kotoran yang ada di mulut atau gigi.
g)      Siramkan air ke seluruh tubuh sampai merata dan kepala sampai ke kaki.
h)      Setelah seluruh tubuh disiram, kemudian digosok dengan sabun dan disiram kembali sampai bersih dan merata ke seluruh bagian tubuh.
i)        Selanjutnya, jenazah didudukkan dan disiram kembali dengan air yang dicampur dengan kapur barus, daun bidara atau benda lainnya yang berbau harum. Air untuk memandikan jenazah hendaknya air suci dan menyucikan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat memandikan jenazah :
a)      Mendahulukan anggota-anggota wudlu dan anggota badan yang sebelah kanan pada waktu mulai menyiramkan air.
b)      Memandikan jenazah disunahkan tiga kali siraman atau lebih dengan jumlah bilangan ganjil.

3.      Orang yang Berhak Memandikan Jenazah
Orang yang berhak memandikan jenazah adalah yang sama jenis kelaminnya dengan jenazah, kecuali suami / istri atau mahramnya. Suami / istri atau mahram jenazah  ini lebih berhak dari yang lain. Disamping itu orang yang memandikan harus bisa menjaga kerahasiaan jenazah. Dalam tradisi masyarakat kita, biasanya ada petugas khusus yang memandikan jenazah. Tentu saja petugas tersebut haruslah orang yang memahami ketentuan-ketentuan syari’at agama mengenai pengurusan jenazah.
Bila mana tidak didapatkan orang yang memenuhi ketentuan tersebut maka jenazah cukup ditayamumi saja.
C.    Cara Mengafani Jenazah
Disiapkan di sebuah kamar (tempat tertutup) untuk mengkafani jenazah. Kain kafan dihamparkan sekira cukup untuk membungkus jenazah. Warna kain putih dan satu diantaranya bergaris (sunah). Dan sebaiknya dibeli dengan harta simayat. Banyaknya kain kafan yang dipergunakan untuk membungkus jenazah minimal satu lembar yang dapat dipergunakan untuk menutupi seluruh tubuh jenazah, baik laki-laki ataupun perempuan.
Mula-mula kain dihamparkan selembar demi selembar (bagusnya tiga lembar). Di atas tiap lapis ditaburkan harum-haruman seperti kerian kayu cendana, kapur barus atau yang lain. Setelah itu, jenazah diletakkan di atas hamparan kain tersebut. Kedua tangannya diletakkan di atas dadanya, dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, atau kedua tangan diluruskan menurut rusuknya. Lubang-lubang badan (mata, telinga, hidung, mulut, qubul dan dubur juga luka yang lubang kedalam) ditutup dengan kapuk/ kapas. Demikian juga anggota sujud (dahi, ujung hidung, lutut, dua telapak tangan, jari-jari kaki bagian bawah) ditutup dengan kapuk / kapas. Kedua paha diikat dengan kain dan diantara kedua paha diberi kapuk/kapas. Kapuk/kapas tersebut semuanya diberi harum-haruman. Lalu kain kafan ditangkupkan, diikat kain di tengah dan kedua ujungnya.

1.   Khusus untuk Jenazah Laki-laki
      Jenazah laki-laki diharamkan dikafani dengan kain sutra. Disunahkan bagi jenazah laki-laki dikafani dengan tiga lembar kain yang menutupi seluruh tubuhnya.
2.   Cara Mengafani Jenazah Perempuan
Jenazah perempuan disunahkan untuk dikafani dengan lima lembar kain yang terdiri dan baju, tutup kepala, cadar dan kain yang menutupi seluruh tubuhnya. Di antara beberapa lapis kain tersebut diberi harum-haruman. Cara mengafani jenazah perempuan, mula-mula dihamparkan kain untuk membungkus seluruh tubuh jenazah. Setelah itu, jenazah diletakkan di atas kain tersebut dan diberi harum-haruman. Selanjutnya jenazah diberi baju, tutup kepala, dan cadar di mana masing-masing diberi harum-haruman. Kemudian seluruh tubuh jenazah dibungkus dengan kain pembungkus.

D.  Cara Menyalatkan Jenazah
1.  Syarat-syarat shalat jenazah adalah sebagai berikut :
a)      Menutup aurat, suci dan hadas besar dan hadas kecil, bersih badan dan pakaian, terhindar dari tempat yang najis, serta menghadap kiblat.
b)      Jenazah telah dimandikan dan dikafani;
c)      Letak jenazah di sebelah kiblat orang yang menyalatkan, kecuali apabila shalat jenazah di komplek kuburan atau shalat gaib (shalat untuk orang meninggal yang jenazahnya tidak hadir).
2.      Rukun Shalat Jenazah adalah sebagai berikut :
1.      Niat;
2.      Berdiri bagi yang mampu;
3.      Takbir empat kali;
4.      Membaca Surah Al-Fatihah;
5.      Membaca salawat kepada Nabi saw;
6.      Mendoakan jenazah;
7.      Membaca salam.
3.      Sunnah Shalat Jenazah adalah :
1.      Mengangkat tangan pada setiap takbir (empat takbir);
2.      Melirihkan suara dalam bacaan shalat (siri)
3.      Membaca ta’awudz
4.      Diikuti jama’ah dalam jumlah yang banyak; bila bisa diusahakan lebih 40 orang
5.      Memperbanyak jumlah saf; bila bisa diusahakan dalam 3 saf.

4.      Cara Melaksanakan Shalat Jenazah
Shalat jenazah dapat dilakukan untuk satu jenazah atau lebih. Selain itu shalat jenazah juga dapat dilakukan secara perorangan ataupun berjama’ah. Jenazah boleh dishalatkan berulangkali secara bergantian. Hal ini biasanya dilakukan jika orang yang akan menyalatkan jenazah berjumlah banyak dan tempatnya tidak mencukupi.
Jika jenazah yang akan dishalati adalah laki-laki, maka kepala jenazah ada di selatan ( untuk wilayah ditimur Ka’bah) dan  imam berdiri di hadapan kepala jenazah. Namun, jika jenazah ini perempuan maka kepala jenazah ada di utara ( untuk wilayah di timur Ka’bah), dan imam berdiri di depan perut atau pinggangnya. Jika peserta shalat jenazah terdiri dari kaum laki-laki dan perempuan, maka pelaksanaan shalat jenazah boleh dilakukan secara bergantian atau secara sekailgus oleh jama’ah laki-laki dan perempuan.
Setelah jenazah diletakkan di depan imam, barulah dilaksanakan beberapa hal sebagai berikut :
a)      Mula-mula seluruh jama’ah berdiri dengan niat melakukan shalat jenazah
Adapun niat untuk shalat jenazah adalah sebagai benikut :
“Aku niat menunaikan shalat untuk (jenazah laki-laki ini/jenazah perempuan ini) sebanyak 4 takbir secara fardu kifayah sebagai (makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”
b)      Takbiratul ihrom lalu membaca Surah Al-Fatihah.
c)      Takbir yang kedua lalu membaca salawat atas Nabi Muhammad saw
d)      Takbir yang ketiga mendoakan jenazah. Do’a yang dibacanya adalah :
Artinya:     “Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia, sejahterakanlah dia dan maafkanlah kesalahannya.”
Namun, jika jenazahnva perempuan. Do'anya seperti berikut ini :
Doa yang panjang adalah sebagai berikut :
الَّلهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْه/ها وعَافهِ/هَا وَاعْفُ عَنْهُ/هَا وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ/هَا وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ/هَا وَاغْسِلْهُ/هَا بِالْمَــاءِ وَالثَلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ/هَا مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ/ها دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ/هَا وَأَهْلا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ/هَا وَزَْوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ/هَا  وَقِهِ/هَا فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia sejahterakanlah dia dan maafkanlah kesalahannya, mulyakanlah kedatangannya,, luaskanlah tempat kediamannya, basuhlah ia dengan air, es dan embun. Bersihkanlah dia sebagaimana dibersihkannya pakaian putih dari kotoran.Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, ahli keluarganya dengan ahli keluarga yang lebih baik dan istrinya/suaminya denga istri /suaminya yang lebih baik. Dan peliharalah dia dari huru-hara alam kubur dan siksaan neraka.

Jika jenazahnya adalah anak yang belum baligh doanya sebagai berikut :
1.      Doa yang pendek :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لَنَا سَلَفًا وَ فَطَرًا وَأَجْرًا
YaAllah jadikanlah dia bagi kami sebagai titipan, pendahuluan, dan ganjaran.

2.      Doa yang panjang
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَطَرًا لِأَبَوَيْهِ وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِيْظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيْعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِيْنَهُمَا وَافْرِغِ الْصَبْرَ عَلَى قُلُوْبِهِمَا وَ لَا تَفْتِـنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ
Ya Allah jadikanlah dia pendahulu bagi kedua orang tuanya, dan titipan dan simpanan, dan nasehat dan pelajaran dan pertolongan. Dan beratkanlah timbangan amal kedua orangtuanya dan selesaikanlah dengan kesabaran atas hati kedua orangtuanya, dan janganlah terjadi fitnah sesudahnya dan janganlah Engkau halangi pada kami akan pahalanya.

e)      Takbir yang keempat membaca doa berikut ini :
Artinya :    Ya Allah janganlah Engkau rugikan kami dari mendapatkan pahalanya dan janganlah Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami dan dia.”
­Namun, jika jenazahnya perempuan, doanya seperti berikut ini :
f)       Membaca salam sambil memalingkan muka ke sebelah kanan dan ke kiri dengan lafat:
السَّــــلامُ عليكُمْ وَرَحْمَة اللهِ وَبَِرَكاتُهْ

D.     Cara Menguburkan Jenazah
Cara-cara menguburkan jenazah adalah sebagai berikut :
a.       Mula-mula dibuatkan liang lahat sepanjang badan jenazah yang dalamnya kira-kira setinggi orang ditambah setengah lengan dan lebarnya kira-kira 1 meter. Di dasar lubang dibuat miring lebih dalam ke arah kiblat. Maksudnya, agar jenazah tidak mudah dibongkar oleh binatang buas setelah jenazah itu membusuk.
b.      Setelah sampai di tempat pemakaman, jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat dengan posisi miring ke kanan dan menghadap arab kiblat. Ketika kita meletakkan jenazah, hendaklah membaca doa :
Artinya : “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah.”
c.       Tali-tali pengikat kain kafan dilepaskan, pipi kanan dan ujung kaki ditempelkan pada tanah.
d.      Selanjutnya, jenazah ditutup dengan papan kayu atau bambu dan di atasnya ditimbun dengan tanah sampai galian liang kubur kembali rata. Tinggikan gundukan tanah kuburan dari permukaan tanah dan di atas arah kepala diberi tanda batu nisan.
e.       Tanah kubur jenazah disiram air mawar atau air biasa. Hal ini sesuai dengan riwayat hadits bahwa sesungguhnya Nabi saw telah menyiram kuburan putra beliau Ibrahim.
f.       Mendoakan dan memohonkan ampun jenazah. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi saw. yang artinya: “Apabila Nabi saw selesai menguburkan jenazah, beliau berdiri di atasnya dan bersabda, Mobonkanlah ampun untuk saudaramu dan mintakanlah untuknya supaya diberi ketabahan karena sesungguhnya ia sekarang akan ditanya.”
g.       Sebelum meninggalkan kuburan disunahkan mengambil tanah galian untuk dilomtarkan  di atas kubur tiga kali. Kali yang pertama dengan membaca “minha kholaqnakum”, Kali yang kedua dengan membaca “minha nu’idukum”, dan yang terakhir  dengan membaca “wa minha nukhrijukum tarotan ukhro”.
E.     Cara Berta’ziyah
Menurut bahasa, arti ta’ziyah adalah menghibur atau berbelasungkawa. Adapun menurut arti istilah, ta’ziyah adalah mengunjungi keluarga orang yang meninggal dunia dengan maksud agar keluarga yang mendapat musibah dapat terhibur dan diberikan keteguhan iman serta sabar dalam menghadapi musibah sambil memberikan doa agar jenazah diampuni dosa-dosanya semasa hidup. Oleh karena itu, pahala bagi orang yang bertakziyah sangat besar
Ta’ziyah hukumnya sunah dan merupakan hak muslim terhadap muslim yang lain. Sebagaimana kita ketahui bahwa hak orang Islam terhadap orang Islam lainnya ada enam, yaitu: menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, mendatangi undangan, memberi nasihat, dan mendoakan ketika bersin.
Ada beberapa hal-hal yang perlu dilakukan ketika kita berta’ziyah antara lain :
a)      Memberikan bantuan kepada keluarga yang terkena musibah, baik bantuan moral maupun materil untuk mengurangi beban kesulitan dan kesedihannya;
b)      Menghibur mereka agar tidak berlarut-larut dalam duka dan menganjurkan sabar karena sesama manusia pasti akan meninggal;
c)      Menyalatkan jenazah dan mendoakannya agar mendapat ampunan dari Allah swt atas segala dosanya;
d)      Mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman untuk menyaksikan penguburannya;
e)      Tidak boleh berbicara keras, bercanda atau tertawa terbahak-bahak.
F.      Cara Berziarah Kubur
Ziarah kubur adalah mengunjungi makam (kuburan) kaum muslimin demi tujuan untuk mengingat mati dan mengingat akhirat serta mendoakan sang mayit. hukum ziarah kubur adalah sunah. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah saw berikut ini :
Artinja: “Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dahulu saya telah melarang kamu ziarah kubur, maka sekarang Muhammad saw telah diizinkan untuk berziarah ke kubur ibunya, maka ziarahlah kamu, karena sesungguhqya ziarah kubur itu mengingatkan akan akhirat.” (HR. An-Nasa’i).
Hal-hal yang disunahkan bagi orang yang berziarah kubur antara lain memberi salam kepada ahli kubur, mendoakan keselamatan bagi ahli kubur dan memohonkan ampun bagi mereka. Dalam hadits dinyatakan bahwa Rasulullah saw telah mengajari para sahabat agar mengucapkan salam sejahtera kepada ahli kubur ketika sedang berziarah. Adapun bacaan salam untuk ahli kubur adalah sebagai berikut :

اَلسَّــلامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْــنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإنَّا إِنْ شَــاَءَ اللهُ بِكُمْ لاحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكَمُ الْعَافِـيَةَ
Artinya:     “Salam sejahtera semoga dilimpahkan kepadamu sekalian hai ahli kubur dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya kami, jika dikehendaki Allah akan segera menyusul kamu sekalian. Kami memohon selamat kepada Allah bagi kita semua dan juga bagi kamu sekalian.”

Doa setelah Sholat Janazah yang disukai Imam Syfi’i:
اللهم هَذَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدَيْكَ خَرَجَ مِنْ رَوْحِ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا وَمَحْبُوْبُهُ وَاَحِبَّاؤُهُ فِيْهَا إلى ظُلُمَةِ الْقَبْرِوَمَاهُوَلَاقِيْهِ. كَانَ يَشْهَدُأَنْ لَاإلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَاشَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ وَأنْتَ أعْلَمُ بِهِ مِنَّا.اللهم إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وأنْتَ خَيْرٌ مَنْزُلٍ بِهِ. وَأَصْبَحَ فَقِيْرًا إِلَى رَحْمَتِكَ وَأنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ. وَقَدْجِئْنَاكَ رَاغِبِيْنَ إِلَيْكَ شُفَعَاءَ لَهُ.اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِى إحْسَانِهِ وَإن كَانَ مُسِيْئًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ وَلَقِّيْهِ بِرَحْمَتِكَ رِضَاكَ وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَهُ. وَافْسَحْ لَهُ فِى قَبْرِهِ وَجافِ الأرضِ عَنْ جَنْـبَيْهِ  وَلَقِّيْهِ بِرَحْمَتِكَ الْأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ حَتَّى تَبْعَـثَهُ أَمِنًا اِلَى جَنَّـتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ.الرَّاحِمِين  
             
Ya Allah ini adalah hamba-Mu dan anak dari kedua hamba-Mu yang telah keluar dari kesenangan dunia dan keleluasaannya dan yang dicintainya dan yang mencintainya didalamnya menuju gelapnya alam kubur dan pada apa yang dia pasti akan menemuinya. Dia bersaksi bahwasanya tiada tuhan kecuali Engkau yang esa yang tidak ada sekutu bagi-Mu, dan sungguh Nabi Muhammad adalah hamba-Mu juga utusan-Mu dan Engkau lebih mengetahui keadaannya dari pada kami. Ya Allah sesungguhnya dia akan datang kepada-Mu, sedang Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang didatanginya. Dan dia sangat membutuhkan belaskasihan-Mu, sedang Engkau tidak butuh untuk menyiksanya. Dan kami benar-benar datang kepada-Mu berharap kepadamu akan pertolongan untuknya. Ya Allah jikalau dia orang yang baik maka tambahlah kebaikannya dan jika dia orang yang jelek maka ampunilah dia dan jumpailah dia dengan kerelaan  sebagai rohmat-Mu dan jagalah dia dari fitnah alam kubur dan dari siksaannya. Dan luaskanlah untuknya dalam kuburnya dan luaskan lubang bumi dari sisinya dan jumpailah dia dengan keamanan  sebagai rohmat-Mu dari siksaanmu hingga Engkau bangkitkan dia dalam keadaan aman menuju surga-Mu dengan rohmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.




Sholatlah sebelum kamu disholatkan