Senin, 06 Januari 2014

Islam dan Ilmu Pengetahuan / XII Genap



A.    Menelisik Proses Penciptaan Alam.
Sebagai seorang ,muslim yang berilmu, seharusnya kita bisa memberikan penjelasan tentang asal-usul kejadian alam semesta menurut kaca mata ilmu pengetahuan. Karena Allah swt memerintahkan hamba-Nya untuk merenung dan memikirkan ciptaan-Nya di jagat raya ini.apalagi kalau kita mampu memerangkan fungsi dan manfatat masing-masing komponen yang ada di alam raya,niscaya kita akan meraih kejayaan sebagaimana yang pernah di capai peradaban muslim di masa lampau dan juga peradaban barat dewasa.

Namun sayang, kaum muslimin ini sering terjebak memahami makna syari’ah dalam arti sempit. Pemahaman yang sempit terhadap syari’ah tidak jarang justru menghilangkan subtansi dari syari’ah itu sendiri. Akibatnya mereka hanya melakukan ibadah seremonial dan tidak mendapatkan sesuatu yang berharga melalui aktivitas yang mereka lakukan.dengan pemahaman yang benar terhadap syari’ah. Kaum muslimin pernah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan secara pesat. Melalui pengetahuan inilah diketahui gejala-gejala alam yang komplek yang dapat diuraikan untuk mendapatkan manfaat bagi umat manusia. Hal tersebut hanya dapat dilakukan sebuah generasi yang gigih melakukan intizbar (penelitian) atas semangat keislaman sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an. Allah SWT telah berfirman : 

Artinya: “ Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda-tanda kebesaran Allah dan rosul-rosul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman. (Q.S. Yunus / 10 : 101).

Ketika syariah dipahami secara keliru, muncullah kerancuan ilmu pengetahuan. Akibatnya bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini, bagaimana kebanyakan orang muslim menganggap disiplin ilmu fisika, biologi, kimia dan ekonomi bukan bagian dari ilmu Islam. Mereka membedakan ilmu-ilmu tersebut sebagai ilmu dunia yang dianggap bukan berasal dari Al-Qur’an, dan hanya dianggap ibadah ritual, upacara seremonial keagamaan, dan ilmu-ilmu agama saja yang bisa mengantar kesuksesan hidup seseorang, baik didunia maupun di akhirat.

Sesungguhnya Al-Qur’an banyak memuat ayat-ayat yang mendorong kaum muslimin untuk melakukan intizbar dan menggunakan akal pikiran, seperti yang tercantum dalam ayat tersebut diatas. Didalam ayat yang lain juga disebutkan :
 
maka tidaklah memperhatikan unta bagaimana diciptakan. Dan langit bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaiman ditegakkan. Dan bumi bagaimana dihamparkan.“(Q.S.Al-Ghasyiah:17-20).

“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan penguasaan (ilmu pengetahuan dan teknologi).” ( QS.Ar-Rahman : 33 )
Berdasarkan beberapa keterangan ayat diatas, umat Islam memiliki keharusan untuk mengkaji dan menguak tabir misteri alam semesta. Setiap individu muslim diharapkan mampu memahami fenomena dan gejala alam yang terjadi di sekelilingnya, memahami ekosistem lingkungan, mengkaji fenomena alam dengan akal dan merenungkan kebesaran Allah awt. Dengan demikian, akan muncul hikmah penciptaan alam semesta yang tentu tidak diciptakan Allah secara sia-sia.

Bukanlah memang Islam semenjak awal kedatangannya sangat mendukung pengembangan ilmu pengetahuan? Tidakkah kita melihat bahwa Islam mendukung pengembangan teknik navigasi untuk membantu para jemaah haji menuju kota Mekah dan juga untuk kepentingan perdagangan? Bukankah Islam sangat mengapresiasi pengembangan ilmu kesehatan untuk menjamin kesejahteraan hidup umat manusia secara fisik? Bukankah Islam telah melahirkan para ulama sains seperti Ibn Sina yang merupakan seorang filosof sekaligus seorang dokter? Bukankah Islam juga melahirkan Ath-Thusi, seorang yang sangat ahli di bidang astronomi? Bukankah Islam juga telah memunculkan Abu Jafar Muhammad, seorang pakar matematika yang dasar perhitungannya dijadikan panduan untuk aljabar dan algoritma dimasa modern? Bukankah Islam juga telah melahirkan seorang Ibnu Al-Haitsam yang telah membantu Newton untuk merumuskan teori optiknya?

Ironisnya, semangat para ulama masa keemasan Islam itu semakin lama semakin memudar. Sampai akhirnya umat muslim hanya menganggap Al-Qur’an sebagai kitab suci yang hanya disimpan di rak buku saja tanpa dikaji kandungannya. Al-Qur’an hanya diposisikan sebagai ayat-ayat suci yang bisa dipergunakan untuk mengusir kekuatan jahat. Padahal, disamping itu semua, Al-Qur’an mengandung banyak ilmu pengetahuan yang bisa mengantarkan umat islam menguasai kembali supremasi dunia. Bahkan ayat-ayat Al-Qur’an sangat berpotensi untuk pengembangan IPTEK.

Ini semua seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua sebagai kaum muslimin untuk segera membenahi dirinya dari segi pemikiran dan semangat mengembangkan sains dan teknologi. Islam sama sekali tidak anti sains dan juga tidak anti teknologi. Bahkan justru Islam menghendaki kaum muslimin menguasai berbagai ilmu pengetahuan untuk mewujudkan kesejahteraan dimuka bumi dan kebahagiaan kelak di akhirat.

A.    Mewujudkan Kembali Supremasi Ilmu Pengetahuan
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini dunia Islam sedang dililit berbagai masalah. Selain guncangan isu terorisme, perang saudara dan lain-lain, sebagian negara-negara yang mayoritas warganya berpenduduk Islam masih banyak yang belum memprioritaskan pembangunan di bidang sains dan teknologi. Namun demikian kita masih bisa berharap banyak pada beberapa negara yang mayoritas penduduknya muslim untuk bisa mendongkrak kembali supremasi ilmu pengetahuan. Sebut saja Iran, Malaysia, Pakistan, dan Indonesia sendiri, yang sekarang telah melahirkan para sarjana sains dan teknologi yang bisa diandalkan inovasi dan kreasinya untuk kemajuan negara. Dari para generasi muda inilah kita juga banyak berharap agar rahasia yang terkandung dalam ayat-ayat Qur’aniyah dan kauniyah (alam semesta) bisa diungkap kembali. Allah swt berfirman :
 
Artinya : ”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar dilaut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering)-Nya dan Dia ditebarkan didalamnya bermacam-macam binatang dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang – orang yang mengerti.” (Q.S. Al-Baqoroh/2:164).
Sebagaimana tergambar dalam ayat diatas dan beberapa ayat yang lain, Allah swt selalu memotivasi manusia untuk selalu membaca fenomena alam yang telah diciptakan. Untuk memahami kebesaran Allah, perlu sebuah usaha serius dari manusia. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pengamatan terhadap segala sesuatu yang ada, merenungkannya, dan berusaha menangkap pesan yang terkandung didalamnya. Karena segala sesuatu yang ada, khususnya setiap makhluk hidup di alam, merupakan tanda keberadaan Tuhan yang menjadi saksi atas keberadaan dan keagungan-Nya. Sepintas lalu, pernyataan ayat Al’Quran di atas memang tampak seperti peristiwa yang lumrah dan bersifat alami bagi kebanyakan orang. Pergantian malam dan siang, lautan yang terbentang luas, yang memberi kehidupan bagi tanah, pergerakan angin dan awan, semua merupakan peristiwa yang sudah sewajarnya tejadi. Namun bagi mereka yang mau berpikir dan merenung secara dalam akan berpendapat bahwa semua ini merupakan sistem alam yang berjalan secara mekanis yang sangat luar biasa. Berbagai peristiwa alam akan menarik keingintahuan para ilmuwan yang mau bertanya ” mengapa semua ini terjadi.” dan tidak jarang dari pertanyaan kritis tersebut memunculkan penemuan ilmiyah yang sangat bermanfaat bagi umat manusia. Hanya orang-orang bodoh saja yang tidak mau merenungkan kebesaran Allah di jagat raya ini. Karena memang Al-Quran sendiri yang menegaskan bahwa hakekat alam semesta hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang berpikir. Bagi orang yang mau berfikir, ayat diatas bisa dianggap telah memberikan dua bentuk pendidikan bagi umat manusia :
1.      Pendidikan Aqidah, yaitu sebuah pendidikan yang mengenalkan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang telah menciptakan alam semesta yang wajib disembah. Pendidikan Aqidah mengenalkan ke-Esaan Allah sebagai Tuhan yang mengajarkan manusia segala sesuatu yang tidak diketahuinya. Dari pendidikan ini diharapkan tumbuih rasa keimanan yang sangat kuat dalam diri setiap kaum muslimin.
2.      Pendidikan Aqliyah, yaitu sebuah pendidikan yang menekankan kaum muslimin untuk mempelajari proses penciptaan manusia dan alam semesta. Proses pembelajaran tersebut adalah melalui proses membaca dan menulis serta melalui berbagai bentuk penelitian ilmiyah. Oleh karena itu, akal pikiran manusia yang telah dianugerahkan Allah sewajarnya digunakan dengan maksimal, terlebih untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Jika ini tidak dilakukan maka akal pikiran yang dimiliki manusia akan sia-sia belaka. Bukankah dalan Al-Qur’an ditegaskan bahwa martabat orang berilmu itu tinggi dan mereka mempunyai kelebihan dibanding orang tidak berilmu? Allah swt telah berfirman

Artinya: ”(Apakah kamu orang yang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (Azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah ”apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sebenarnya banyak orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran ”(Q.S Az- Zumar/39:9)

Ketika kaum muslimin telah siap mengembangkan sains dan teknologi, hendaklah mereka bisa mengambil pelajaran dari kemajuan peradaban barat sekarang ini. Barat yang mengalami kemajuan dibidang ilmu pengetahuan ternyata justru terperangkap dalam berbagai persoalan dan krisis moral, runtuhnya spiritualitas, hilangnya jati diri, rusaknya lingkungan hidup, dan sejumlah permasalahan krusial lainnya. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan justru meruntuhkan derajat manusia dimata Allah. Oleh kerena itu kalaupun nantinya kaum muslim berhasil menguasai sains dan teknologi, mereka harus mengembangkan paradikma sains dan teknologi yang Islami, yang akan mengangkat derajat manusia di sisi Allah, bukan sebaliknya malah akan membuat mereka terperosok dalam lembah kehancuran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar