Minggu, 22 Desember 2013

Adab Dalam Hidup Sehari-hari /X Genap



A. Adab Berpakaian
      1.  Islam menukai Kebersihan dan kerapian
      Rosulullah saw merupakan profil yang paling sempurna bagi kaum muslimin. Beliau merupakan orang yang selalu berpenampilan rapi dan wangi dalam setiap keadaan. Tentu saja apa yang beliau lakukan menjadi teladan bagi umatnya dan sunnah untuk diikuti.
      Berpenampilan rapi tidak selalu menuntut harga mahal dan terkesan  galamour. Bahkan orang yng sehat akalnya, akan melakukan sesuatu berdasarkan fungsi dan manfaat, bukan hanya mengutamakan gengsi atau tuntutan penampilan. Begitu juga dengan pakaian, hendaklah seorang muslim yang bijak memilih pakaian berdasarkan pertimbangan fungsi dan manfaat . Dalam Islam setidaknya ada tiga fungsi pakaian bagi kaum muslim:
a.   Fungsi  Religius
      Maksudnya, pakaian dalam Islam berfungsi untuk menutup aurat yang sebenarnya bertujuan untuk menjaga kehormatan dan harga diri manusia. Bagi laki-laki, aurat yang harus ditutup mulai dari pusar sampai dengan lutut. Sementara bagi perempuan, seluruh bagian tubuhnya merupakan aurat, kecuali bagian wajah dan telapak tangan.
b    Fungsi Estetika
      Pakaian juga berfungsi untuk menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki jiwa seni. Berangkat dari fungsi inilah manusia bisa mengembangkan kreasinya dalam berbagai model demi menampilkan keindahan seni sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt. Hanya saja, model busana yang dikembangkan harus tetap disesuaikan dengan fungsi religius sebagaimana yang telah disebutkan diatas.
c    Fungsi  Medis
      Di samping untuk fungsi religius dan estetika, pakaian juga berfungsi untuk melindungi kesehatan manusia dari berbagai penyakit atau gangguan alam. Dengan mengenakan pakaian, tubuh manusia akan lebih terlindung dan terjaga dengan baik.

2.    Adab Berpakaian
        Agar cara berpakaian kaum muslim sesuai dengan ketiga fungsi di atas, hendaklah juga sesuai dengan beberapa adab / adab sebagai berikut :

a.    Menutup Aurot
Busana seorang muslim haruslah mencerminkan ketaqwaan kepada Allah swt. Dengan demikian seorang muslim tidak akan membiarkan aurotnya terbuka tanpa tertutup busana. Karena hal tersebutsama dengan melanggar ajaran Islam. Sebagaimana sabda Rosulullah saw.:
عن بَهْـزٍ بن حكيم عن أبيه عن جدّه قال . . . . . .قال النبي صلى الله عليه و سلم إحفظ عوْرَتك إلا مِنْ زَوْجَتِكَ أوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُـكَ    ( رواه أبوْ داوُدَ)
“ Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata :. . . .Nabi berkata, “Janganlah kamu perlihatkan aurotmu kecuali di hadapan istri atau hamba sahaya”. (HR. Abu Dawud )

      b.   Memilih Pakaian yang Layak dan Bersih
            Hendaklah seorang muslim mensyukuri nikmat Allah swt dengan cara berpenampilan yang layak dan terhormat. Karena seorang muslim sejati pasti akan memilih busana yang rapi dan bersih. Hal ini sesuai dengan sabda Rosul saw :
عنأبى اللأحْوَصِ عن أبيه قال . . . . . .قال النبي صلى الله عليه و سلم : فإذا أتاك الله مالا فَلْيُرَ نعْمة الله عليك وَ كَرَامَتِهِ  ( رواه أبوْ داوُدَ)
“Dari Abi Al-Ahwash, dari ayahnya, dia berkata, . . . . Nabi saw bersabda,: “Apabila Allah memberimu karunia harta, hendaklah kamu tunjukkan tanda-tanda kenikmatan dan kemulian Allah tersebut”.

c.   Tidak untuk kesombongan
                Tidak halal bagi seorang muslim mengenakan pakaian dengan tujuan kesombongan, pamer, dan merendahkan orang lain. Rosulullah saw bersabda :
عن عبد الله بن عُمَـرَ رضي الله عنهما فال، قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من جَرَّ ثوْ بَهَ خُيَلاءَ لم ينظر اللهُ إليه يوْمَ القيامة (رواه البخارى)
 “Dari Abdillah bin Umar ra, dia berkata, Rosulullah saw bersabda, “Barangsiapa menggerai busananya untuk tujuan sombong, maka Allah tidak akan memperhatikannya kelak di hari qiyamat “. (HR. Al-Bukhori)

d.   Tidak dari bahan transparan dan membentuk
                  Tidak jarang orang yang mengenakan pakaian, tetapi hakekatnya telanjang karena sekujur tubuhnya tampak dari luar.
عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : صنفان من أهل النار لم أر هما قوم معهم سياطٌ كأذنابِ البقر يضربون بها الناس ونسـاء كاسياتٌ عاريات مُمِلات مائلات. . . . .( رواه مسلم )
“Dari Abi Huroiroh ra, dia berkata, Rosulullah saw bersabda, Ada dua golongan yang akan menjadi penghuni neraka. Sementara ini aku belum pernah menyaksikan kedua golongan tersebut yakni sekelompok orang yang membawa cemeti seperti yang dipergunakan untuk menyambuk orang lain (dengan semena-mena),dan para perempuan yang mengenakan busana namun telanjang. Merena adalah para perempuan penggoda dan cenderung berbuat maksiat . . . .” (HR.Muslim)

Haram menggunakan celana yang membentuk, semisal model pencil, cut bray

      e.   Tidak tabdzir (Tidak berlebihan/mewah)
            Islam sangat menganjurkan kesederhanaan, sehingga sikap boros dan berlebihan termasuk sikap yang tidak Islami. Dalam hal ini Allah berfirman QS.Al-Isro’/17:26-27 :

26. dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
27. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Boros bisa ditinjau dari cara pembuatannya dan ketika memakainya.
           
      f.    Dilarang Tasyabbuh
                        Yang dimaksud dengan tasyabbuh adalah model berhias kaum laki-laki menyerupai perempuan, atau sebaliknya. Dan juga model orang muslim menyerupai orang kafir. Rosul saw. bersabda :
عن ا بن عباسٍ رضي الله عنهما فال،لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم : المُتشبّهين من الرجال بالنساء والمُتشبّهات من النساء بالرجال (رواه البخارى)
            “Dari Ibnu ‘Abbas ra. dia berkata, “Rosulullah saw melaknat laki-laki yang berdandan menyerupai perempuan dan perempuan yang berdandan menyerupai laki-laki”. (HR.Al-Bukhori)

رَأى رسولُ اللهِ عَليَّ ثوبين مُعَصْفرَيْنِ فقال: إنَّ هذه من ثياب الكفَّار فلا تلبَسْها
            “Rosulullah saw pernah melihat aku memakai dua pakaian yang dicelup ashfar, maka beliau bersabda: Ini adalah pakaian orang kafir, janganlah kamu memakainya”
     
      g.   Dilarang Sutra dan Emas
                        Para lelaki muslim, haram hukumnya menggunakan sutra dan emas. Sebagaimana larangan  Nabi Muhammad saw berikut ini :

نهانى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن التخَـتم بالذهب و عن لباس القِسِّيِّ عن لباس المُعَصْفَرِ (الطبرنى)
            “Rosulullah saw pernah melarang aku memakai cincin emas, pakaian sutra dan pakaian yang dicelup dengan ‘ashfar”. (HR.At-Thobroni)

      h.   Diawali dengan Bagian Kanan dan Berdoa
                        Sunnah hukumnya memakai pakaian diawali dengan bagian kanan dan ketika melepas dengan bagian kiri dulu.
     
      i.    Berwarna Putih lebih diutamakan dalam pakaian.

B.  Adab Berhias
            Sabda Rosulullah saw :
عن عبدالله بن مسعود عن الني صلى الله عليه و سلم قال إنَ اللهَ جميلٌ يحـب الجمالَ (رواه مسلم)
 “Dari ‘Abdillah bin Ma’ud ra. dari Rosulullah saw , beliau bersabda,: Sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Indah lagi menyukai keindahan”. (HR.Muslim)
      Untuk itu kita sebagai kaum muslim sudah selayaknya selalu berpenampilan yang rapi, bersih, harum dan berwibawa tanpa kesan berlebihan, baik dalam berpakaian maupun dalam berhias. Untuk itu perlu diperhatikan dalam penampilan :

a.    Rambut kepala
Rambut kepala sebaiknya dipotong yang bagus, berminyak dan disisir. Lebih baik lagi bila bersongkok sebagai mana kebiasaan umat Islam sejak dulu.
Rambut Rasulullah kadang-kadang sampai cuping telinga. Terkadang juga rambut beliau sampai mengenai pundak. Dengan rambut seperti ini, beliau selalu memperhatikan kebersihan dan keindahannya. Beliau menyisir dan meminyakinya sehingga tampak bersih dan indah. Tidak kotor terkena debu atau malah menjadi sarang kutu hingga mengakibatkan rambut menjadi menjijikkan.
     
b.   Tutup Kepala
Dalam Islam tidak menutup kepala adalah dianggap tanda seseorang yang mempunyai kedudukan rendah dan dinyatakan di dalam beberapa buku diantara tindakan-tindakan yang menunjukan kekurangan (khawarim al- muru'a).' Seseorang sarjana bercerita semasa beliau masih muda, bahawa pada satu hari, beliau masuk ke masjid di Medinah tanpa memakai sebarang penutup kepala dan ayahnya memarahi beliau : “ Berani kamu masuk masjid tanpa sebarang penutup kepala !”
      Syaikh Nashiruddin al-Albani berkata, "Saya berpendapat bahwa shalat dengan kepala terbuka adalah makruh, karena merupakan hal yang bisa diterima jika seorang muslim masuk masjid untuk shalat dengan penampilan islami yang semaksimal mungkin, berdasarkan hadits, "Sesungguhnya berhias (rapi) di hadapan Allah adalah lebih berhak (dilakukan)." 
      Perlu diketahui bahwa shalat dengan kepala terbuka adalah makruh, maka juga tidak dibenarkan seseorang tidak mau shalat dibelakang orang (imam) yang tidak memakai tutup kepala.
Wallahu a’lam bish shawab.
 
c.   Berwangian
Sesungguhnya penggunaan parfum adalah merupakan anjuran Rasulullah SAW, sehingga hukumnya sunnah. Dan memang sebenarnya parfum itu adalah sunnah para rasul, sebagaimana sabda beliau:
أربع من سنن المرسلين: الحناء, والتعطر, والسواك, والنكاح           
Empat perkara yang merupakan sunnah para rasul: [1] Memakai hinna', [2] memakai parfum, [3] bersiwak dan [4] menikah
Hanya saja yang perlu diperhatikan, jenis parfum untuk laki-laki berbeda dengan perempuan. Khusus untuk perempuan hendaklah tidak mengenakan parfum dengan aroma yang terlalu tajam,sehingga bisa mengundang perhatian kaum pria.
Bila sampai demikian, maka Rasulullah SAW sangat melarangnya, bahkan sampai beliau mengatakan bahwa wanita yang berparfum seperti itu seperti seorang pezina. Sabda Rosulullah saw :
أيما امرأة استعطرت, فمرت بقوم ليجدوا ريحها فهي زانية
Siapa pun wanita yang memakai parfum lalu melenggang di depan laki-laki agar mereka menghirup bau wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina”.

      d.   Selendang
Rosulullah saw bersabda :
إذا صلّى أحدكم فليأْتزِرْ وَلْيَرْتَدِ
“Bila seseorang diantara kalian sholat, hendaklah dia bersarung dan pakai selendang”.

e.    Cincin
      Umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan tidak dilarang memakai cincin. Sedang perhiasan yang lain semisal kalung, beranting-anting dan bercindik termasuk tasyabbuh (menyerupai perempuan). Hanya saja yang perlu diperhatikan khusus untuk kaum laki-laki cincin yang terbuat dari emas diharamkan.
            Ajaran Islam hanya mengizinkan keindahan yang sesuai dengan etika sosial dan tidak melanggar syari’ah Islam. Dengan demikian, Islam tidak menganut aliran seni bebas tanpa batas. Karena hal ini sangat berpotensi masuknya tipu daya setan yang menjerumuskan manusia kejalan yang sesat. Allah swt berfirman :
24(21).” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
.          
            Adapun berhias yang dilarang dalam adalah sebagai berikut :
      a.   Bertato
                  Bertato merupakan tradisi orang jahiliyah (bodoh) yang telah ada sebelum Islam dan diharamkan dalam syari’at Islam. Dan perlu diketahui banyak perusahaan yang orang bertato sebagai karyawannya.
      b.   Merenggangkan gigi
                  Merenggangkan gigi untuk tujuan mempercantik diri menjadi haram hukumnya karena dianggap merubah ciptaan Allah yang diberikan kepada manusia.
      c.   Menyambung rambut (wig)
                  Menyambung rambut juga haram. Walaupun hanya sesaat ketika jadi temanten
      d.   Mencabut bulu alis.
                  Keempat hal di atas diharamkan berdasarkan hadits berikut ini :
عن أبى عمر رضي الله عنهما قل اعن النبي صلى الله عليه و سلّم الواصلة والمُسْتوْصلة
والواشمة والمُستوْشِمَةَ (رواه البخارى)
 “ Dari Ibnu ‘Umar ra. dia berkata,: “ Nabi saw melaknat orang yang menyambung rambut atau orang yang minta disambung rambutnya, dan melaknat orang yang bertato atau orang minta untuk ditato”.

عن ابن مسعوْدٍ رضي الله عنه قال : لعن اللهَ الواشماتِ والمستوْشمات والمُتـنـَمِّـصات والمتـفـلجات للحسن المغيّرات خلق الله (رواه البخارى)
      Dari ‘Ibnu Mas’ud saw, Allah melaknat orang-orang yang menato tubuhnya atau orang yang minta ditato, Allah juga melaknat orang-orang yang mencabut bulu alisnya atau merenggangkan giginya agar terlihat lebih cantik. Semua itu merupakan upaya untuk mengubah ciptaan Allah”.

C.   Adab Bertamu dan Menerima Tamu
     1.  Kewajiban Menghormati Tamu
      Salah satu tanda keimanan kepada Allah dan hari akhir adalah apabila seseorang menghormati tamunya. Menghormati tamu termasuk salah satu upaya membangun jalinan kasih sayang di antara sesama. Banyak ayat Al-Qur’an maupun hadits yang menganjurkan seseorang untuk menghormati tamunya. Misalnya kisah Nabi Ibrahim as yang menghormati tamunya dengan memberikan suguhan bagi mereka. Kisah ini terungkap dalam firman Allah SWT berikut ini :

“dan Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat." Ibrahim menjawab: "Selamatlah," Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”(Q.S. Hud /11:69).

          Ayat di atas menggambarkan bagaimana tata krama yang diperlihatkan para hamba Allah yang shaleh ketika menerima tamu. Memang seperti itulah selayaknya seorang mukmin berlaku. Sebab penghormatan kepada tamu merupakan salah satu indikasi keimanan seseorang. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda,

عن أبى هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلّم قال من كان يؤْمن بالله واليوْمِ الاخر فلْيُكرم ضيفه وَ من كان يؤْمن بالله واليوْمِ الاخر فلْيصل رحمه و من كان يؤْمن بالله واليوْمِ الاخر فليقل خيرًا أوْ ليصْمت (رواه البخارى)
“ Dari Abi Hirairah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda,”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia menyambung tali silaturrohim. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau lebih memilih diam.” (Hr.Al-Bukhori)

Adapun adab menerima tamu adalah sebagai berikut :
a.   Menerima tamu dengan senang hati dan bersikap baik
      Ketika datang seorang tamu maka segeralah ditemui, menyambutnya dengan senang hati dan mengenakan busana yang pantas serta dengan tutur kata yang sopan.

 “dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.QS.Lukman/31:18

          b.   Memberi jamuan kepada tamu
      Dalam menjamu tamu kita memdapat teladan dari Nabi Ibrohim as yang diabadikan dalam QS.Hud/11:69 sebagaimana telah kami sebutkan di atas. Walaupun demikian kita dilarang memaksakan diri dalam mengadakan jamuan (sebaiknya seadanya). Dan lebih baik lagi bila kita menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan tamu beserta jamuannya.
               
                c.   Mengantarkan tamu ketika pulang
                        Ketika tamu telah berpamitan maka sebaiknya kita antarkan sampai kedepan pintu.
عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إنَّ مِنَ السُـنَّـةِ أنْ يَخْرُجَ الرَجُلُ مَعَ ضَيْـفِهِ إلى بَابِ الدَارِ (رواه إبن ماجاه)
 Dari Abi Huroiroh, dia berkata Rosulullahi saw bersabda,: “Sesungguhnya  termasuk bagian dari sunnah adalah jika seseorang mengantarkan tamunya sampai di pintu rumah”.

Perlu waspada :
            Terhadap tamu yang belum dikenal sebelumnya sebaiknya hati-hati:
a.   menanyakan tanda pengenal dan nomor telpon
            b.   segera melapor ke polisi bila mencurigakan
            c.   tidak meninggalkan tamu sendirian di rumah
            d.   tidak menempatkan barang berharga di ruang tamu
            e.   tidak meminjamkan barang berharga, semisal sepeda motor.
            f.    selalu dzikir (ingat kepada Allah) untuk menaklukkan gendamnya.
           
      2.   Adab Bertamu
            Di antara tata krama atau adab yang harus dipenuhi oleh seorang tamu adalah :
      a.   Tidak masuk sebelum mengucapkan salam
                  Hendaklah seorang tamu menghomati privasi tuan rumah dengan cara tidak masuk terlebih dahulu sebelum memberi salam atau mengetuk pintu. Mengenahi etika ini Allah swt berfirman :
24(27). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. (QS.An-Nur :27)
           
            b.   Berjabat tangan dan berpelukan (mu’anaqoh)
      Dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عن البراء رضي الله عنه قال: قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم : ما من مسلمين يلتقيان فيتصافحان الا غفر لهما  قبل أن يتفرقا (رواه ابو داود)
Dari Bara’ ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila ada dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, maka kedua mendapat ampunan (dari Allah) sebelum mereka berpisah” (HR: Abu Daud)
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan berjabat tangan ketika bertemu, dan ini merupakan perkara yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan para ulama, bahkan ini merupakan sunnah yang muakkad (sangat ditekankan).
      Berpelukan (mu’anaqoh) disunahkan ketika telah lama baru bertemu atau dari bepergian jauh semisal dari perjalanan haji dan tidak disunnahkan untuk dilakukan ketika sering bertemu. Sebaiknya tidak bermuanaqoh antara perempuan dengan perempuan dihadapan kaum lelaki.

        c.   Tidak mengintip ke dalam rumah
                  Perbuatan mengintip merupakan perbuatan tercela. Sampai-sampai Rosulullah saw pernah memperingatkan dengan keras kepada shahabatnya sebagaimana riwayat berikut ini :
عن سَهْلٍ بن سَعْدٍ السَاعِدِى أنَّ رَجُلا يَتَحَقّقُ عَلَى النبي صلى الله عليه و سلم  مِنْ سَتْرِ الحُجْرَةِ وَ فِى يَدِ النبيّ صلى الله عليه و سلم مِدْرَى فقال لهُ لَوْ أعْلَمُ أنَّ هذا يَنْظرُنِى حتَّى أتَيْتُهُ لَطَعَنْتُ بِالْمِدْرَى فِى عَيْنِهِ وَ هَلْ جُعِلَ الاِسْتِئْذَانُ إلا من أجْلِ الْبصَرِ    (رواه مسلمٌ)
      “Dari Sahl bin Sa’ad bahwa ada seorang mengintip Nabi saw dari balik tirai kamar beliau. Ketika itu beliau sedang menyisir rambutnya. Maka beliau pun bersabda,’Kalau tadi aku tahu dia mengintip, pasti aku colokkan pada kedua matanya. Tidakkah dibuat aturan minta izin itu melainkan untuk melindungi mata “. (HR.Muslim)

d.   Tidak menginap lebih dari tiga hari
            Seorang tamu hendaklah tdak membebani tuan rumah dengan cara bermalam lebih dari tiga malam. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah saw :
عن أبى شُرَيْحٍ الخزاعى فال فال رسول الله صلى الله عليه و سلم الضِيَافَةُ ثلاثة أيّامٍ و جَائِزَتُهُ يَومٌ وَ ليْلة وَ لا يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أنْ يُفِيْمَ عند أخَيْهِ حتَّى يُؤْثِمَهُ قالوا: يا رسول الله وَ كيف يُؤْثِمُهُ قال يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلا شَيْءَ لَهُ يَقْرِيْهِ بِهِ (رواه مسلمٌ)
“Dari Abi Syuroih Al-Khoza’i, dia berkata bahwa Rosulullah saw bersabda:’ Waktu bertamu itu maksimal tiga hari. Sedang waktu yang disyari’atkan hanya sehari semalam saja. Seorang muslim tidak halal menginap dirumah saudaranya sehingga membuat dia berprasangka buruk kepadanya’. Para shabat bertanya :’ Wahai Rosulullah, apa maksudnya sampai membuatnya berprasangka buruk ?’ Rosulullah saw menjawab: Dia terus menginap di rumah temannya,sehingga tidak ada suguhan yang bisa diberikan kepadanya’.

e.    Tamu lelaki tidak masuk ketika suami tidak di rumah
        Tamu lelaki tidak diperkenankan masuk ketika suami tidak di rumah. Hal ini dilarang untuk menghindari fitnah karena bersama orang lain yang tidak muhrim.

f.    Menikmati jamuan dengan sekedarnya
        Ketika tuan rumah menyuguhkan hidangan seorang tamu hendaknya menerima hidangan dengan senang hati dan memakan dengan sekedarnya saja. Dan Rosulullah saw memerintahkan membatalkan puasa sunah bagi tamu demi menyenangkan tuan rumah sebagaimana hadits berikut ini :
عن عائشة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال إذا نزل الرجل بقوم فلا يصوم إلا بإذنهم (رواه إبن ماجاه)
   Dari “Aisyah, dari Nabi saw, beliau bersabda,”Apabila seseorang bertamu kepada sekelompok orang, hendaknya dia tidak berpuasa kecuali setelah mendapat izin dari mereka.”(HR.Ibnu Majah)
                       
      g.   Berbicara seperlunya saja
      Ketika bertamu berbicaralah seperlunya saja, sebab yang sering selebihnya adalah jatuh dalam pergunjingan dan pembicaraan yang tak berguna. Dan jangan berlama-lama dengan tuan tumah bisa jadi mengganggu kegiatannya.
           
            h.   Berpamitan
      Ketika silaturohim telah dianggap cukup, maka sebaiknya tamu segera berpamitan dengan mengucapkan terima kasih atas sambutan yang diberikan, bersalam dan mengucapkan salam.

C.   Adab Bepergian
      Ketika bepergian (safar) seorang muslim seyogjanya memenuhi adab-adabnya sehingga tetap dimulyakan Allah dan selalu dalam perlindungannya. Adapun adab-adabnya diantaranya sebagai berikut :
a.     Memilih Teman Seperjalanan
       Disarankan orang yang mau pergi (jauh) untuk tidak melakukan perjalanan sendirian. Bukan cuma sekedar mempererat persahabatan atau menjadi teman ngobrol, tapi juga menjadi penolong kalau terjadi sesuatu. Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku beritahu manusia yang paling buruk?”Orang-orang bertanya, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Orang yang bepergian sendirian dan orang yang tidak mau menolong temannya serta orang yang memukul hamba sahayanya.”#

Karena itulah Rasulullah saw mengatakan, “Pilihlah teman, baru kemudian tempuhlah perjalanan.” (Bihârul Anwâr, jil. 76, bab. 49) Tapi bukan asal pilih teman, harus lihat juga waktu yang tepat dan akan kemana perjalanan. Pilihlah teman seperjalanan yang keberadaannya memberikan efek positif bagi perkembangan dan kesempurnaan manusia (insân).

b.   Menyelesaikan Tanggung Jawab
Sebelum pergi jauh, seorang musafir harus menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya, misalnya utang-piutang atau nafkah keluarga yang menjadi tanggungannya. Kalau tidak mampu, barulah membuat wasiat agar sepeninggalnya dibayar dari harta waris. Karena kematian siap datang kapan saja.

c.   Menyiapkan Bekal
Tentu sebelum bepergian kita harus menyiapkan bekal yang sekiranya diperlukan dalam perjalanan dan tempat tujuan. Kalau tidak bawa bekal, yang terjadi malah merepotkan diri sendiri dan teman seperjalanan. Nabi saw bersabda, “Di antara kemulian seorang lelaki adalah membawa bekal yang baik setiap kali hendak menempuh perjalanan.” Kalau ternyata teman kita kekurangan membawa bekal, ‘kan kita sendiri yang dapat membantunya. Melengkapi dengan surat jalan, KTP, kompas, peta dan Hp adalah alat-alat sangat meolong

d.   Disunahkan Berpamitan
            Mengucapkan selamat tinggal (berpamitan) kepada keluarga, kerabat dan teman-teman dekat adalah merupakan kesunatan ketika akan meninggalkan rumah

e.   Zikir dan Doa
Sebagaimana setiap pekerjaan diawali dengan doa, tidak terkecuali perjalanan jauh. Dianjurkan ketika akan berangkat berdzikir dengan menyebut nama Allah, membaca surah Al-Fatihah dan ayat kursi serta doa yang terkait dengan bepergian (biasanya banyak di kitab-kitab hadis).
Kemudian ucapkan dzikir subhanallâh tujuh kali, alhamdulillâh tujuh kali dan lâ ilâha illallâh tujuh kali.

إذا خرجت من منزلك في سفر أو حضر فقل: بسم الله، آمنت بالله، توكلت على الله ما شاء الله ولا حول ولا قوة إلا بالله
Sayyidina Ali kw. berkata, “Jika kamu keluar dari rumahmu baik dalam perjalanan atau tidak, ucapkanlah, ‘Dengan nama Allah, aku beriman kepada Allah dan kepadaNya aku tawakal kepada Allah, apapun yang dikehendaki Allah (terjadilah), tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak Allah’.”

Allah swt mengajarkan kepada kita sebagaimana ayat QS. Az-Zukhruf : 13-14, ketika sudah diatas kendaraan, untuk membaca doa safar berikut :

"Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi Kami Padahal Kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, . dan Sesungguhnya Kami akan kembali kepada Tuhan kami".
Dilanjutkan dengan do’a berikut :

اللهم إنَّا نسألك فِى سَفَرِنَا هَذَا البِرَّ والتقوَى، وَ مِنَ العَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهم هَوَّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَـذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهم أنْتَ الصَاحِبُ فِى السَفَرِ والخَلِيْفَةُ فِىِ الاهلِ، اللهم إنِّى أعُوْذُبِكَ مِنْ وَعَثَاءِ السَّـفَرِ وَكَابَةِ المَنْظَرِ، وَسُوْءِ الْمُنْقَـلَبِ فِى المَالِ وَاْلأهْلِ
      “Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepada-Mu akan kebaikan dan ketaqwaan di dalam perjalanan kami ini, Ya Allah mudahkanlah atas kami perjalanan ini, dekatkanlah kejauhannya, Ya Allah Engkau adalah teman didalam perjalanan ini, dan Pengganti kami di dalam keluarga kami, Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari bencana dalam perjalanan, pemandangan yang menyedihkan dan buruknya tempat kembali di dalam harta dan keluarga”.

Dan disunahkan membaca takbir ketika jalan menanjak dan bertasbih ketika menurun.

f.    Bersedekah
Sedekah memang sunah Islam yang sangat ditekankan, termasuk sebelum melakukan perjalanan. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa sedekah dapat menolak marabahaya dan bencana serta mencegah hal buruk lainnya. Nabi saw bersabda, “Sedekah itu menolak bala (bencana).” Dalam hadis lain beliau bersabda, “Sedekah itu menutup tujuh puluh pintu kejahatan.”

g.   Murû’ah dan Sikap Baik
Sesama teman seperjalanan hendaknya berlaku baik, sopan dan murah hati (murû’ah). Jika bersikap kasar dan tidak sopan, perjalanan malah tidak menyenangkan. Nabi saw. pernah bilang, “Tidaklah dua orang bersahabat melainkan orang yang lebih baik terhadap temannyalah yang akan memperoleh pahala lebih besar dan lebih dicintai oleh Allah.”
Nabi saw. juga bersabda, “Adapaun murû’ah dalam perjalanan adalah mengeluarkan bekal, berlaku baik dan bercanda pada hal-hal yang bukan maksiat.” Imam Ali as juga pernah bilang, “Adapun murû’ah dalam perjalanan adalah mengeluarkan bekal (biaya) kepada yang lain, mengurangi perselisihan dengan teman perjalanan, memperbanyak zikir di setiap puncak atau lembah, di saat turun, duduk ataupun berdiri.”
           
h.   Membawa Oleh-Oleh
Riwayat-riwayat Islam menganjurkan bahwa ketika musafir kembali dari perjalanan, hendaklah membawa oleh-oleh untuk keluarga meskipun sesuatu yang kecil dan murah. Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang dari kalian keluar melakukan perjalanan, tatkala kembali ke tengah keluarganya hendaklah membawakan untuk mereka hadiah meskipun hanya sepotong batu.” (Bihârul Anwâr, jil. 76, bab 52) Tentunya maksud Nabi bukan sebenarnya batu, tapi sekecil atau semurah apapun, orang yang menerima pasti senang.
Selain hal-hal di atas ada juga adab-adab khusus lainnya, seperti salat dua rakaat, pamit pada sanak keluarga dan kenalan, jika perjalanan secara rombongan maka pilihlah seorang pemimpin. Nabi saw. bersabda, “Jika tiga orang melaksanakan suatu perjalanan, maka hendaklah memilih salah seorang mereka sebagai pemimpin perjalananmu.” (Kanzul ‘Ummal, hadis 7549).
Pemimpin perjalanan harus mengerti bahwa tugas-tugasnya adalah memimpin, menjaga dan melayani peserta perjalanan dan mengatur tugas serta memberikan kenyamanan. Nabi saw bersabda, “Pemimpin kelompok dalam perjalanan adalah pelayan mereka.” (Man Lâ Yahdhuruhu Al-Faqîh)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar