Minggu, 22 Desember 2013

Akhlaq Madzmumah / X Genap



A. Hasud
            Diantara akhlaq tercela adalah hasud. Wajib hukumnya setiap muslim membersihkan hatinya dari sikap hasud. Hasud (hati iri dengki) adalah menginginkan musnahnya suatu kenikmatan yang sedang diterima dan atau dialami oleh orang lain. Dan tidak termasuk hasud bila keingin untuk memperleh kenikmatan seperti apa yang dimiliki orang lain itu tidak diikuti keinginan musnahnya kenikmatan yang dimiliki orang lain tersebut.
      Seharusnya seseorang tidak perlu bersikap hasud. Karena rizqi dan nasib seseorang telah ditentukan oleh Allah swt melalui jerih payahnya sendiri. Dalam hal ini Allah berfiman :

4/32. “dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”.QS. An-Nisa’:32
               
                Abu Laits As-Samarqandi telah meriwayatkan sebuah hadits berkualitas hasan dari Abu Huroiroh ra sebagai berikut :
عن أبى هريرة أنَّ النبي صلى الله عليه و سلم قال : إيَّاكمْ وَالحَسَـدَ فإنَّ الحسـدَ يَأكلُ الحسناتِ كمَا يأكلُ النَّارُ الحَطَـبَ (رواه أبو داود)
“Dari Abu Huroiroh, bahwa Nabi saw bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap sifat hasad! Karena sesungguhnya sifat hasud bisa menghanguskan berbagai kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar”.

1. Bahaya Hasud menurut pendapat Para Ulama.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata kepada putranya,” Wahai anakku, hati-hatilah terhadap sifat hasud. Karena bahaya sifat hasud akan mengancam dirimu sebelum menimpa musuhmu.”
Seorang cendikiawan muslim berkata,” Waspadalah terhadap sifat hasud, sebab sifat hasud merupakan dosa yang pertama-tama terjadi di langit dan di bumi. Penolakan Iblis terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Adam tidak lain karena sifat hasud, sehingga Allah mengutuknya. Dan Qobil membunuh Habil juga karena sifat hasud.
Al-Ahnaf bin Qois berkata, “Orang yang memiliki sifat hasud tidak dapat merasa bahagia dan orang yang bakhil tidak akan berbudi”.
Abu Laits berkata ,”Tidak ada suatu yang lebih jahat daripada sifat hasud. Seseorang yang memiliki sifat hasud setidaknya akan tertimpa 5 bencana sebelum bencana tersebut  mengenai sesuatu yang dijadikan sasaran sifat hasudnya, yaitu ; hatinya terus merasa risau, cobaan yang tidak menghasilkan pahala, tertimpa sifat yang tercela, dimurkai Allah dan tertutup dari pintu taufiq”.
Bahaya lain yang ditimbulkan sifat tercela ini adalah membuat pelakunya selalu berfikiran buruk dan tidak bisa menilai secara obyektif.  Oleh karena itu, dia menjadi tampak tidak wajar dihadapan manusia dan akan dibenci komunitasnya. Bahkan seseorang yang memelihara sifat hasud, selamanya tidak bisa menjadi pemimppin.
     
      2. Sifat hasud yang diperbolehkan
                Pada penjelasan terdahulu telah disampaikan bahwa sifat hasud merupakan sifat yang sangat buruk. Namun demikian, ada dua jenis sifat hasud yang ternyata tidak dikategorikan sebagai sifat buruk, tetapi malah dianjurkan dalam ajaran Islam. Sebagaimana Hadits berikut :

عبد الله بْنِ مسعود قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم لا حَسَـدَ إلا فِى اُثـنَـتـَيْنِ رَجُـلٌ أتاهُ اللهُ مَالاً فَـسُـلِّـطَ عَلَى هَـلَـكَـتِـهِ فِى الْحَـقِّ وَ رَجُـلٌ أتَاه اللهُ الحِكْمَةَ فَهُوَ يَقضِى بَهَا وَ يُعَلِّمُهَا (رواه البخارى)
  “Abdullah bin Mas’ud berkata, bahwa Nabi saw Bersabda,” sifat hasud tidak diperbolehkan kecuali dalam dua hal yaitu: seseorang yang diberi harta kekayaan oleh Allah, lantas membelanjakan  dalam kebaikan, dan seseorang yang diberi kepandaian oleh Allah lantas mengamalkan dan mengajarkan kepada orang lain.” (HR.Al-Bukhori)

B.  Riya’
            Riya’ artinya memperlihatkan kepada orang lain perbuatan yang ditujukan untuk akhirat,  supaya disanjung dan dipuji, atau supaya memperoleh penghargaan dari orang lain. Hakikat riya’ sebenarnya ada di dalam hati manusia dan bukan dalam bentuk perbuatannya. Sebab ada orang yang memperlihatkan pekerjaannya di depan orang lain, bukan untuk tujuan agar mendapatkan sanjungan orang lain, tetapi tujuannya untuk memberi contoh. Yang demikian bukanlah termasuk perbuatan riya’. Dengan kata lain, sifat riya’ sulit  diketahui oleh orang lain, yang mengetahui hanyalah dirinya sendiri dan Allah swt.
      Riya’ adalah termasuk bentuk perbuatan syirik dan disebut sebagai syirik kecil / syirik yang tersembunyi.
            Diriwayatkan dalam satu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesuatu yang paling aku khawatirkan kepada kamu sekalian adalah perbuatan syirik kecil. Ketika ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: Yaitu riya’.
      Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kamu aku beritahu tentang sesuatu, yang menurutku, lebih aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al-Masih Ad-Dajjal. Para sahabat menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliaupun bersabda: “Syirik tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan shalat, dia perindah shalatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya.”

1.   Jenis Riya’
      a. Riya’ dalam niat
              Riya’ dalam niat artinya riya’ yang muncul ketika mengawali suatu pekerjaan. Ketika seseorang mengawali suatu pekerjaan menaruh niat untuk mendapat sanjungan dan penghargaan dari orang lain, bukan bertujuan untuk mendapat ridlo’Allah maka pekerjaan tersebut sia-sia dihadapan Allah tanpa membuahkan pahala.
عمر بن الخطاب رضى الله عنه يقول: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يَقولُ إنَّمَا الأعْمَالُ بالنيَاتِ وَ إنمَا لِـكُـلِّ أمْرِئٍ مَا نَوَى . . . . . (متفق عليه)
      “Umar bin Al-Khoththob ra berkata, aku mendengar Rosulullah saw bersabda,” Bahwasanya setiap amal itu tergantung dari niatnya dan apa yang akan diperoleh seseorang tergantung niatnya pula.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

      b. Niat dalam perbuatan
              Riya’ dalam perbuatan adalah riya’ yang muncul ketika seseorang tengah melakukan amal perbuatan. Riya’ juga bisa terjadi di dalam sholat, yaitu dengan memperlihatkan ketekunan, kekhusyukannya dan kefasihan bacaannya dengan tujuan mendapat sanjungan sebagai hamba yang paling baik dan paling rajin beribadah. Firman Allah :

4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya[1603],

      Adapun menceritakan amal perbuatan kepada orang lain untuk mendapat sanjungan disebut sum’ah. Dan orang yang mengagumi akan kehebatan dirinya disebut ujub. Orang yang merasa lebih hebat dari orang lain namanya takabbur. Yang semua ini adalah saudara dari sifat riya’.

2.   Bahaya Riya’
              Riya’ adalah penyakit hati yang wajib dihindari sebab yang dapat membinasakan, dan bahayanya amat berat bagi seorang muslim. Diantara bahayanya adalah sebagai berikut :
a.  menumbuhkan sifat sombong
b.  penyesalan akan amalnya jika tidak mendapat sanjungan dari orang lain.
c.  Menyebabkan malas beramal ketika tidak mendapat penghargaan
d.  Menghilangkan pahala amal sholeh
e.  Dibenci oleh Allah dan manusia
f.   Menimbulkan rasa dendam terhadap orang yang tidak memujinya.

C.  Berbuat Aniaya
            Aniaya dalam Islam diistilahkan dengan sebutan  zholim ( ظالم ) adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dengan demikian sifat zholim tidak identik dengan sifat bengis. Sebab ditinjau dari pengertian tadi, duduk di atas meja juga termasuk dalam kategori perbuatan zholim.

1.  Jenis-jenis perbuatan aniaya
a.  Aniaya terhadap diri sendiri, mis: meracuni tubuh dengan rokok, minuman keras atau narkoba, meracuni jiwa dengan kesyirikan dan kemaksiatan .
b.  Aniaya kepada orang lain, mis: menyakiti orang lain
c.  Aniaya kepada lingkungan, mis: merusak kelestarian alam

Dari Jabir bin abdillah bahwa Rosulullah saw bersabda,”Takutlah kalian untuk berbuat zholim! Karena perbuatan zholim itu menyebabkan kegelapan (kesengsaraan) kelak di hari qiyamat.” (HR. Muslim)
أنَّ عبد الله بن عمر رضى الله عنهما أخبره رسول الله صلى الله عليه وسلم قال المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ لايَظْلِمُهُ وَلايُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أخِيهِ كان اللهُ فِى حَاجَتِهِ . (وراه البخارى)
Abdullah bin Umar ra memberitahukan bahwa Rosulullah saw bersabda,”Sesama muslim itu adalah bersaudara. Hendaklah seorang muslim tidak menzholimi maupun menipu muslim yang lain. Barangsiapa mau membantu saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

        2. Akibat Buruk Perbuatan aniaya
             Semua perbuatan aniaya akan menimbulkan dampak / bahaya baik di dunia maupun di akhirat terutama bagi pelaku aniaya itu sendiri.
              Begitu besarnya bahaya aniaya / zholim sehingga seorang muslim wajib untuk mencegah atau memperingatkan bagi orang yang berbuat aniaya tersebut. Ketika seseorang bersikap acuh tak acuh terhadap kezholiman yang terjadi di hadapannya, maka Allah akan menimpakan bencana tidak saja kepada si pelaku, namun juga kepada orang yang membiarkan perbuatan buruk itu merajalela.

عن خالد وإنّا سمعنا النبي صلى الله عليه وسلم يقول إنَّ النَّأسَ إذا رََأَوْا الظَالِمَ فَلَمْ يَأخذوْا على يديه أَوْشَكَ أنْ يُعَمَّهُمُ اللهُ بِعِفَابٍ (رواه أبو داود)
Dari Kholid, sesungguhnya kami telah mendengar Nabi saw bersabda,” Jika ada orang yang membiarkan orang lain berbuat zholim, maka Allah akan menimpakan adzab kepada seluruh komunitas tersebut.” (HR.Abu Dawud)

Karena perbuatan zholim ini secara tidak terasa sering kali kita kerjakan, sudak selayaknya kita senantiasa mohon ampun kepada Allah swt. Dalam hal ini banyak doa yang diajarkan oleh Rosulullah saw, yang diantaranya doa yang dibaca dalam sholat sebelum salam berikut ini:

اللهم إنى ظلمتُ نفسى ظلما كثيرا ولا يغفر الذنوب إلا أنت فاغْفِرْلى مَغفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وارْحَمْنِى إنَّكَ أنتَ الغفُورالرحيم
“Ya Allah, sungguh aku sering kali berbuat zholim pada diriku sendiri. Sementara tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan limpahkan kasih sayang dari sisi-Mu kepadaku. Sebab sesungguhnya Engkaulah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar