Jumat, 28 Februari 2014

Dakwah Nabi Periode Makkah Kelas X Ganjil SMK


A.  Pendahuluan

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”. QS. Yusuf :111.

Tersebarnya agama Islam ke seluruh pelosok dunia seperti dewasa ini bukan berarti tanpa perjuangan keras. Semua itu dimulai dari dakwah Nabi Muhammad saw sejak beliau menerima wahyu pertama di kota Mekah, tepatnya di Gua Hira. Sejak peristiwa itulah Nabi Muhammad saw telah dikukuhkan menjadi Rasulullah yang terakhir dan berkewajiban untuk menyebarkan dakwah islamiyah kepada seluruh umat manusia.
Proses dakwah Nabi di kota Mekah berlangsung selama 13 tahun. Perjalanan dakwah Nabi di Mekah sarat dengan tantangan dan hambatan dari berbagai kalangan, mulai dari orang-orang kafir Quraisy, bahkan dari keluarga beliau sendiri yang ingkar terhadap ajarannya.
Secara garis besar,dakwah nabi Muhammad saw periode Mekah terbagi menjadi dua tahap,yaitu :
- Dakwah secara sembunyi-sembunyi yang berlangsung selama tiga tahun.
- Dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Mekah yang dimulai sejak tahun keempat kenabian hingga akhir tahun ke-13.

B.     Dakwah secara sembunyi-Sembunyi
Setelah menerima wahyu pertama Surah Al-Alaq ayat 1-5, Nabi Muhammad saw merasa ketakutan dan bingung atas peristiwa yang baru saja dialaminya. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ungkapan pertama yang beliau ucapkan ketika di rumah adalah zamilluni, zamilluni, yang artinya adalah selimutilah aku, selimutilah aku! Beliau merasa sangat terguncang setelah melihat sosok Malaikat Jibril dalam bentuk yang sangat besar. Namun berkat dukungan moril dari Khadijah dan juga informasi dari seorang pendeta Yahudi bernama Waraqah bin Naufal mengenai sosok Jibril, maka beliau menjadi lebih tenang.
Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, nabi masih merenung dan memikirkan kejadian yang telah dialaminya. Sampai kemudian wahyu kedua disampaikan kepada beliau. Berikut ini ayat Al-Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw sebagai wahyu kedua.
  
Artinya  :    “Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji, dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh balasan yang lebih banyak, dan karena Tuhanmu bersabarlah.” (Q.S. Al-Muddatstsir/74:1-7).

Wahyu kedua ini memerintahkan Rasulullah saw agar segera melakukan dakwah kepada umat manusia. Turunnya wahyu kedua inilah yang menjadi awal kegiatan Nabi menyeru dan menyebarluaskan ajaran Islam di muka bumi.
Dalam melakukan misi dakwah islamiyah, mula-mula Rasulullah menyampaikannya secara sembunyi-sembunyi. Selain memamg belum ada perintah Allah swt untuk menyampaikan dakwah secara terbuka, aktivitas dakwah dengan metode sembunyi-sembunyi menjadi strategi yang cukup efektif, karena mampu meredam gejolak sosial di kalangan kaum kafir Quraisy di Mekah. Oleh sebab itulah pada periode ini beliau hanya menyeru kepada keluarga dan beberapa kerabat dekatnya.
Pada tahap awal, Rasulullah hanya menyampaikan beberapa ajaran dasar agama Islam. Inti ajaran tersebut mencakup perintah untuk mengesakan Allah dan penolakan untuk menyembah berhala. Orang-orang yang pertama kali menerima seruan dakwah pada periode awal ini dikenal dengan istilah as-sabiqunal awwalun (golongan pendahulu yang memeluk agama Islam). Mereka adalah Khadijah (istri Rasulullah), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah), Ali bin Abi Thalib (sepupu Rasulullah), serta Abu Bakar (sahabat karib Rasulullah). Melalui beberapa orang tersebut, ajaran Islam menyebar sedikit demi sedikit kepada beberapa orang lainnya. Abu Bakar misalnya, berhasil mengajak lima orang untuk memeluk agama Islam. Mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Utsman bin Affan. Selain keluarga dan kerabat dekat, Nabi Muhammad saw juga menyampaikan dakwahnya kepada orang-orang yang sudah dikenalnya secara baik. Di antara mereka ada yang mau menerima dakwah beliau karena didasari keyakinan kuat bahwa apa yang disampaikan Nabi saw adalah benar.
Dakwah secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, mula-mula Rasulullah dan beberapa sahabatnya hanya berhasil membentuk sebuah kelompok kecil umat Islam. Sampai akhirnya turun wahyu yang mengharuskan beliau untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Menurut sebagian ahli sejarah, wahyu yang memerintahkan Rasulullah saw untuk melakukan kegiatan dakwah secara terang-terangan adalah firman Allah swt,
  
Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.” (Q.S. Asy-Syu’ara’/26:214).

C.    Dakwah secara terang-terangan
Setelah menerima wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan, Rasulullah saw melakukan beberapa langkah strategis untuk misi dakwahnya. yaitu Mengumpulkan Bani Hasyim.
Untuk menyampaikan inti ajaran Islam kepada mereka. Ada sekitar 45 orang dari Bani Muththalib dan Bani ‘Abdi Manaf menghadiri pertemuan tersebut. Namun sebelum Nabi Muhammad saw berbicara sedikit pun, Abu Lahab yang tidak lain paman beliau sendiri langsung menyela, “Orang-orang yang hadir di forum ini adalah paman-pamanmu beserta anak-anaknya. Maka bicaralah jika kamu ingin berbicara, dan tidak perlu bersifat kekanak-kanakan. Ketahuilah bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengerutkan dahi mereka terhadap keluarga besarmu. Oleh karena itu, aku berhak menghukummu. Namun jika kamu tetap bertahan pada tekadmu ini, maka akan lebih mudah bagi seluruh kabilah Quraisy untuk menerkammu. Karena sesungguhnya kami tidak pernah melihat seorang pun dari mereka berbuat macam-macam seperti yang kamu perbuat saat ini.” Mendengar ucapan tersebut, Nabi Muhammad saw sengaja diam dan tidak berkata apapun.
Pada kesempatan lain, Nabi Muhammad saw mengundang mereka untuk kedua kalinya. Saat itulah beliau bersabda, “Segala puji bagi Allah Yang aku memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, percaya dan tawakkal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Sesungguhnya seorang pemandu itu tidak akan mendustakan keluarganya. Demi Allah tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum. Demi Allah, kalian benar-benar akan mati layaknya orang yang sedang tidur nyenyak dan akan dibangunkan lagi layaknya orang yang baru bangun tidur. Sesungguhnya seluruh amal perbuatan yang pernah kalian perbuat benar-benar akan dihisab (dihitung). Lalu disana akan ada surga yang abadi dan neraka yang abadi pula.”
Mendengar ucapan Rasulullah saw, Abu Thalib berkata, “Orang-orang yang menjadi keluarga bapakmu ini sudah bersepakat untuk melawan upayamu. Aku hanyalah segelintir orang diantara mereka. Namun, akulah orang pertama yang mendukung apa yang engkau sukai. Maka lanjutkanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Demi Allah, aku senantiasa menjaga dan melindungimu, namun aku tidak mempunyai pilihan untuk tidak meninggalkan agama Bani Abdil Muththalib.” Kemudian Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini adalah kabar buruk. Ambillah tindakan atas dirinya sebelum orang lain yang melakukannya.” Namun Abu Thalib kembali berkata, “Demi Allah, aku akan tetap melindunginya selama aku masih hidup.”
Kegiatan dakwah Nabi seolah memperoleh angin segar setelah Abu Thalib mengeluarkan pernyataan tersebut. Secara tidak langsung, pernyataan tersebut merupakan dukungan atas kegiatan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Terbukti setelah statemen tersebut dilontarkan, semakin banyak penduduk Mekah yang memeluk agama Islam. Kemajuan ini mendorong Rasulullah untuk semakin mengaktifkan kegiatan dakwahnya secara formal dan terang-terangan. Oleh karena itu, pada suatu kesempatan beliau mengundang seluruh penduduk Mekah ke bukit Shafa untuk mendengarkan khutbahnya.
Dalam khutbahnya, Rasulullah menyampaikan inti ajaran agama Islam yang dibawanya dan menegaskan bahwa dirinya adalah Rasulullah (utusan Allah). Beliau mengajak mereka agar memeluk agama tauhid (mengesakan Allah), beriman kepada risalahnya dan juga iman kepada hari kiamat. Berbagai reaksi pun muncul setelah khutbah itu disampaikan. Ada yang langsung percaya dan mengimaninya dan ada juga yang sebaliknya. Namun yang paling terkenal adalah reaksi dari Abu Lahab. Setelah mendengar khutbah Rasulullah, Abu Lahab marah dan berkata, “Celakalah kamu Muhammad untuk selama-lamanya. Untuk tujuan inikah kamu mengumpulkan kami semua disini?” Setelah ucapan tersebut keluar dari mulut Abu Lahab, Allah swt akhirnya berfirman,

  
Artinya : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.” (Q.S. Al-Lahab/111:1-5).
Kejadian di bukit Shafa tersebut tidak membuat semangat dakwah Rasulullah saw menjadi surut. Justru sebaliknya Rasulullah saw semakin gigih dalam berdakwah. Seruan beliau terus bergema di pelosok kota Mekah, hingga kemudian turun ayat:
  
Artinya : “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik.” (Q.S. Al-Hijr/15:94).

Ayat diatas semakin mengukuhkan posisi Nabi Muhammad saw sebagai seorang rasul untuk menyampaikan risalah Allah secara tegas dan terang-terangan, serta menentang perbuatan orang kafir Mekah.

D.    Intimidasi dan Upaya Pembunuhan oleh Kafir Quraisy
Semenjak Nabi saw dan para pengikutnya melakukan dakwah secara terang-terangan, semakin banyak penduduk Mekah yang benci kepada pemeluk Islam. mereka tidak ingin ada kepercayaan baru yang tumbuh subur di kota Mekah. Karenanya, mereka terus berusaha menghalangi kegiatan dakwah Islamiyah, salah satunya dengan melakukan penganiayaan dan intimidasi. Berbagai penganiayaan dilakukan orang kafir Quraisy, baik kepada Rasulullah maupun para sahabatnya. Setidaknya ada dua tujuan utama yang mereka lakukan, yaitu:
1.      Menghambat dakwah Rasulullah.
2.      Agar Rasulullah dan para pengikutnya meninggalkan agama Islam dan kembali kepada kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang mereka.

Di antara usaha yang dilakukan orang kafir Quraisy untuk menghalangi kegiatan dakwah Rasulullah adalah membujuk Abu Thalib agar mau menyuruh kemenakannya tersebut menghentikan kegiatan dakwah. Bahkan mereka ingin menukar Rasulullah dengan seorang anak muda tampan yang bernama Amrah bin Walid agar mereka bisa membunuh Nabi. Upaya ini dilakukan karena Abu Thalib merupakan pimpinan Bani Hasyim yang memiliki otoritas sangat besar. Mendengar hal tersebut Abu Thalib marah dan berkata, “Kamu serahkan anakmu untuk aku pelihara, sementara anakku kalian bunuh begitu saja. Pergillah dari sini, aku tidak sudi menyerahkannya!”
Kejadian tersebut semakin menumbuhkan rasa sayang Abu Thalib kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, beliau mengundang keluarga Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib untuk menjaga dan melindungi Rasulullah dari upaya penganiayaan kaum kafir Quraisy.
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa suatu hari Rasulullah sedang melakukan ibadah di dekat Ka’bah. Lantas datanglah Abu Jahal dengan membawa batu besar. Batu tersebut akan dijatuhkan ke kepala Rasulullah pada saat beliau bersujud. Namun pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Abu Jahal melihat seekor unta besar menerjang ke arahnya. Abu Jahal akhirnya lari ketakutan dan usaha pembunuhan itu pun gagal.
Selain peristiwa di atas, masih banyak lagi penganiayaan dan intimidasi yang dilakukan terhadap Rasulullah saw. Namun usaha tersebut tetap saja gagal, sehingga membuat mereka menempuh jalan yang lebih halus, yakni membujuk Nabi. Pernah dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa orang-orang kafir Quraisy mengutus “Utbah bin Rabi’ah untuk berbicara kepada Nabi Muhammad saw. “Utbah bin Rabi’ah berkata, “Wahai Muhammad, bila kamu menginginkan harta kekayaan, saya sanggup menyediakannya untukmu. Bila kamu menginginkan pangkat yang tinggi, saya sanggup mengangkatmu menjadi seorang raja, dan bila kamu menginginkan seorang wanita cantik, saya sanggup mencarikannya. Akan tetapi dengan satu syarat, kamu mau menghentikan kegiatan dakwahmu.” Namun secara tegas Rasulullah saw menolak tawaran tersebut.
Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa nabi Muhammad pernah berkata kepada pamannya, Abu Thalib, “Wahai pamanku, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku berhenti berdakwah, pasti aku tidak akan menghentikan dakwahku sampai Allah memberiku kemenangan atau binasa dalam berjuang.”
Intimidasi dan tindak kekerasan juga dilancarkan kaum kafir Quraisy kepada pengikut Nabi Muhammad saw. Namun jumlah penganut Islam semakin bertambah sekalipun tidak dalam jumlah yang sangat besar. Pengikut Rasulullah pada saat itu hanya sekitar 182 orang. Kebanyakan mereka adalah orang-orang miskin dan kaum budak. Oleh sebab itu, dengan mudah orang-orang kafir Quraisy menyiksa mereka. Hal tersebut dilakukan untuk menakut-nakuti dan mencegah berkembangnya agama Islam.
Di antara budak yang disiksa adalah Bilal bin Rabbah, budak Umayyah bin Khalaf. Sebagai tokoh kaum Quraisy Mekah yang terkemuka, Umayyah merasa malu ketika salah seorang budaknya memeluk agama Islam. Oleh karena itu, dia menyuruh Bilal untuk meninggalkan agama barunya tersebut. Namun Bilal menolak perintah tersebut dan dia tetap gigih memeluk agama Islam. Sikap Bilal yang demikian menjadikan Umayyah sangat marah sehingga dia pun menyiksanya dengan amat keji. Bilal diikat dan diseret sepanjang jalan. Tidak hanya itu, tubuh Bilal juga dihimpit dengan batu besar dan dijemur di bawah terik matahari. Bilal dipaksa untuk meninggalkan agama Islam dan diperintahkan untuk kembali menyembah berhala. Namun dia menolaknya. Pada saat yang kritis, Abu Bakar datang dan menebus untuk kemudian memerdekakannya. Bilal bin Rabbah kemudian menjadi mu’adzdzin pertama dalam Islam.
Selain Bilal bin Rabbah, sahabat Rasulullah yang mendapat siksaan dari orang kafir Quraisy adalah Sumayyah, ibunda ‘Ammar bin Yasir beserta seluruh keluarganya. Mereka disiksa oleh majikannya sendiri, yaitu Abu Jahal. Sumayyah disiksa dan akhirnya dibunuh oleh Abu Jahal. Sedangkan ‘Ammar dadanya dihimpit dengan batu yang sangat panas dan sebagian tubuhnya dibenamkan ke dalam pasir yang sangat panas. Keluarganya yang lain pun disiksa dengan siksaan yang sangat menyakitkan.
Meski demikian, siksaan, intimidasi, caci-maki, ancaman dan berbagai bentuk teror dari orang-orang kafir Quraisy kepada Rasulullah saw dan para pengikutnya tidak menyebabkan mereka jera dan berhenti untuk menyebarkan ajaran Islam. Sebaliknya, Nabi dan para pengikutnya semakin gigih dalam berjuang menegakkan kalimat Allah. Siksaan dan penganiayaan yang ditujukan kepada mereka ditanggapi dengan sabar dan tawakkal dengan tetap memohon pertolongan Allah swt. Mereka menganggap semua itu sebagai cobaan dan ujian dari Yang Maha Kuasa. Sebab, Allah swt tidak akan memberi cobaan dan ujian kepada hamba-Nya melebihi dari kemampuan yang mereka miliki.
Sebagai insan pilihan, Rasulullah saw tidak pernah membalas kekerasan dengan kekerasan, melainkan selalu menyikapinya dengan kelembutan, kearifan, dan perdamaian dalam menyelesaikan segala persoalan. Kalau kita mau melihat dan menelusuri jejak sejarah yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, maka kita akan memperoleh pelajaran yang sangat banyak dan berharga. Di antara hikmah yang bisa kita petik dari berbagai peristiwa dan usaha penyebaran agama Islam di Mekah yang dilakukan Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah diperlukan kesabaran, metode dan strategi yang jitu dalam melaksanakan dakwah. Di samping itu, kita juga harus tetap mempertahankan keyakinan kita, meskipun cobaan dan ancaman yang menerpa kita sangatlah berat. Kita harus tetap mempertahankan keyakinan kita, meskipun cobaan dan ancaman menerpa kita.

------ooo000ooo-------
Doa Mohon dihindarkan dari kesusahan:

اللَّهُـمَّ إِنِّى أَعُـوْْذُ بِكَ مِنَ الْهَـمَّ وَ الْحَزَنِ أَعُـوْْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْـزِ وَالْكَسَـلِ وَأُعَـوْْذُ بِكَ مِنَ الجُـبْـنِ الْبُخْـلِ وَأعـوْبِـكَ مِنَ الْغَـلَـبَةِ الدَيْنِ وَ قَهْـرِ الرَّجَالِ،

“ Ya Allah sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, dan aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan rasa malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari banyak hutang dan kedloliman manusia”.

Tugas :   
1.      Tugas individu
- Menceritakan kisah Dakwah Nabi Muhammad saw di Mekah
2.      Tugas Kelompok
- Mencari dari berbagai sumber tentang kisah Nabi saw
  a. di masa kecil
  b. di masa remaja
  c. di masa berumah tangga
  d. dalam menerima wahyu di Gua Hiro’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar