Jumat, 28 Februari 2014

Khusnuzh-zhan kepada Allah kelas X smt Ganjil SMK



A.     Husnuzh-Zhann kepada Allah
1.      Pengertian Husnuzh-Zhonn
Makna istilah husnuzh-zhann adalah berbaik sangka yang menjadi lawan dari su’uzh-zhann yang artinya berburuk sangka. Seorang muslim diperintahkan untuk senantiasa berbaik sangka kepada Allah swt. Hal ini harus dia lakukan dengan alasan bahwa mustahil Allah menghendaki sesuatu yang buruk pada hamba-Nya. Karena Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Bentuk husnuzh-zhann seorang hamba kepada Allah adalah dengan selalu beranggapan bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan Allah kepada dirinya adalah pilihan yang terbaik dari Allah. Adapun jika ternyata kenyataan yang dia terima merupakan kenyataan yang pahit bagi umumnya manusia, hendaklah dia kembali introspeksi dan tidak sertamerta berprasangka bahwa Allah telah berkehendak buruk baginya.
Misalnya ketika seseorang terkena musibah, hendaklah dia tidak berprasangka buruk kepada Allah. Dalam kasus seperti ini, seorang muslim diperintahkan untuk merasa bahwa Allah telah memperingatkan dirinya untuk mengoreksi seluruh amal perbuatannya.
Alasan mengapa seorang hamba diwajibkan untuk berhusnuzh-zhann kepada Allah swt diantaranya karena pengetahuan manusia sangatlah terbatas. Manusia hanya mengetahui hal-hal yang sifatnya kasat mata dan sama sekali tidak mengetahui rahasia yang terdapat di balik realita. Karena keterbatasan pengetahuan terhadap rahasia kejadian alam inilah manusia seharusnya berbaiksangka kepada Allah. Sebab apa yang dia kira suatu kebaikan, belum tentu baik di mata Allah, dan apa yang dia sangka sebagai keburukan juga belum tentu buruk di mata Allah. Hal ini sesuai dengan firman-Nya,
 #Ó|¤tãur br& (#qèdtõ3s? $\«øx© uqèdur ׎öyz öNà6©9 ( #Ó|¤tãur br& (#q6Åsè? $\«øx© uqèdur @ŽŸ° öNä3©9 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ óOçFRr&ur Ÿw šcqßJn=÷ès? ÇËÊÏÈ  
 (2 : 216)“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah/2:216).

2.      Manfaat Husnuzh-Zhann
Berbaik sangka kepada Allah swt sangat banyak manfaatnya. Di antara manfaat yang jelas-jelas bisa dirasakan adalah menambah kadar keimanan dan tawakkal seorang hamba kepada Allah swt. Ketika seseorang senantiasa berhusnuzh-zhann kepada Allah swt, berarti dia yakin bahwa Allah selalu menyayanginya dan akan berbuat yang terbaik untuknya. Seberat apapun musibah yang diberikan kepadanya, dia akan tetap yakin bahwa semua itu sebagai ajang ujian yang akan membuatnya lebih dekat kepada Allah. Bahkan orang yang berhusnuzh-zhann kepada Allah swt tetap akan merasa tenang dan tenteram seberat apapun ujian yang dia terima. Karena dia yakin bahwa Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya. Allah Ta’ala telah berfirman (Q.S. Al-Baqarah/2:286).:
Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr 4
 (2 : 286). Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Manfaat lain yang didapatkan dari sifat husnuzh-zhann kepada Allah swt adalah mendapatkan perubahan takdir yang buruk menjadi takdir yang baik. Dengan terus berbaik sangka kepada Allah, maka ketentuan yang semula ditulis kurang beruntung bisa diubah Allah menjadi takdir yang baik. Sebab takdir Allah juga ditentukan oleh faktor prasangka hamba kepada-Nya. Apabila seseorang berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan menetapkan sesuatu yang baik untuknya. Dan begitu pula sebaliknya. Hal ini sesuai dengan hadits qudsi yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw,


عن أبى هريرة رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه و سلـم يقول الله تعالى : أنا عند ظنّ عبدى بى و أنا معه إذا ذكرنى فإنْ ذكرنى فى نفسـه ذكرْته فى نفسى وإنْ ذكرنى فى ملإْ ذكرته فى ملإ خيرٍ منهم و إن تقرّب إليّ بِشِبْرٍ تقرّبْتُ إليه ذِراعًا،  وإنْ تقرّب إليّ ذراعًا تقرّبتُ إليه بَاعًا، وإنْ أتانى يَمْشِى أتيتُـهُ هَرْوَلَةً ( رواه البخارى)
Artinya  :    Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, nabi saw bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “(Ketentuan)-Ku sangat bergantung pada perasaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku akan selalu bersama-Nya jika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingatku dalam dirinya, maka Aku akan mengingat-Nya pada Zat-Ku. Apabila dia mengingatku di tengah kerumunan massa, maka Aku akan mengingatnya di kerumunan massa yang lebih baik. Jika dia mendekat kepada-Ku sejauh sjengkal, maka Aku aku akan mendekat kepadanya sejauh satu hasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sejauh satu hasta, maka Aku akan mendekatinya sejauh satu depa. Jika dia datang kepada-Ku sambil berjalan kaki, maka Aku akan mendatanginya sambil berjalan cepat.” (H.R. Al-Bukhari).

B.     Husnuzh-Zhann terhadap Diri Sendiri
Kalau pada pembahasan terdahulu telah dijelaskan bagaimana seharusnya seorang hamba berhusnuzh-zhann (berbaik sangka) kepada Tuhannya, maka seorang muslim juga harus berhusnuzh-zhann kepada diri sendiri. Karena melalui sikap seperti inilah seorang muslim bisa menghadapi hidup dengan penuh harapan dan tidak pernah berputus asa. Di antara perwujudan sikap husnuzh-zhann kepada diri sendiri adalah memiliki sifat gigih dan berinisiatif.

1.      Gigih
Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi etos kerja, semangat dalam beraktivitas dan gigih dalam mewujudkan sebuah cita-cita. Sekalipun dalam ajaran Islam disebutkan bahwa semua takdir pada manusia ditetapkan Allah swt, namun bukan berarti manusia hanya bersifat pasif dan pasrah pada suratan takdir. Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk menentukan nasib baik dengan cara ikhtiar (berusaha keras) untuk mewujudkan keinginan dan cita-citanya. Bahkan Allah juga akan merubah nasib buruk menjadi nasib baik ketika usaha gigih telah dilaksanakan dengan maksimal. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam firman Allah swt (Q.S. Ar-Ra’d/13:11)

 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î 3
 (13 : 11). “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. “

Berangkat dari ajaran inilah seorang muslim seyogyanya beraktivitas secara gigih dan pantang menyerah. Itu artinya, seorang muslim tidak diperkenankan bermalas-malasan, hanya berpangku tangan saja. Sebab malas merupakan kebiasaan yang sangat buruk dan akan menyebabkan seseorang terpuruk. Begitu besar bahaya malas, sehingga Rasulullah saw memohon perlindungan kepada Allah swt dengan berdoa sebagai berikut,
عن أنس بْن مالك رضي الله عنه قال كان النبيّ صلى الله عليه و سلـم يقول اللهمّ إنى أعوْ ذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَ الكَسَـلِ والجُبْنِِ و الهَرَم ( رواه البخارى)
Artinya  :    Anas bin Malik r.a. berkata, Nabi saw bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kondisi yang lemah, sifat malas, sifat pengecut, dan sakit-sakitan karena lanjut usia.” (H.R. Bukhari).

Perintah untuk melakukan aktivitas secara gigih juga telah disebutkan dalam firman Allah swt. Seseorang tetap harus berdoa kepada Allah agar aktivitas yang dia lakukan sukses. Dengan demikian, seseoarng tidak akan merasa sombong dengan keberhasilan yang telah dia raih. Karena kesuksesan yang dia raih merupakan anugerah dan karunia dari Allah. Allah swt telah berfirman,
#sŒÎ*sù |Møîtsù ó=|ÁR$$sù ÇÐÈ   4n<Î)ur y7Înu =xîö$$sù ÇÑÈ          

Artinya  :    “Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (Q.S. Al-Insyirah/94:7-8).

Namun seandainya setelah melakukan perjuangan gigih (ikhtiar) untuk sebuah aktivitas ternyata hasil yang didapat tidak sesuai dengan harapan, janganlah seseorang berputus asa atau justru bersu’uzh-zhann kepada Allah. mungkin Allah mempunyai tujuan lain yang lebih bagus dari apa yang kita inginkan.

2.      Berinisiatif
Seorang muslim sejati akan selalu berusaha memberikan yang terbaik, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, dia akan senantiasa berinisiatif untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Dengan mempelopori sesuatu yang baik, orang yang pertama kali melakukannya akan mendapatkan pahala orang-orang yang ikut mempraktikkan kebaikan itu selanjutnya. Dia akan terus mendapatkan pahala kebaikan yang dia pelopori secara terus menerus tanpa mengurangi pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut. Namun sebaliknya, apabila seseorang berinisiatif melakukan hal yang buruk, maka dia juga akan mendapatkan dosa orang-orang yang melakukan keburukan itu setelah dirinya. Oleh karena itu, hendaklah inisiatif yang dikembangkan seorang muslim hanya pada hal-hal yang bernilai positif dan konstruksi (membangun). Rasulullah saw telah bersabda,
عن المنذرِ بن جرير عن أبيه قال . . . فقال رسول الله صلى الله عليه و سلـم من سـنَّ من الإسلام سنّة حسـنةً فعمل بها بعده كتب لهُ مثل أجر من عمل بها ولا ينقص من أُجُوْرِهم شيءٌ ومن سنّ فى الإسلام سنـة سيئةً فعمل به بعده كُتب عليه مثل وزرٍ و من عمل بها ولا ينقص من أَوْزرهم شيء ( رواه مسْلم)
Artinya  :    Dari Al-Mundzir bin Jarir, dari ayahnya, dia berkata, …Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa melakukan inovasi yang baik dalam Islam, lantas inovasi tersebut terus dipraktikkan sepeninggal orang tersebut, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang mempraktikkan amalan itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Namun barang siapa melalukan inovasi yang buruk dalam Islam, lantas perbuatan buruk itu dilakukan terus sepeninggalnya, maka dia akan meraup dosa orang yang mempraktikkan perbuatan itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (H.R. Muslim).

Orang yang mau terus berinisiatif positif akan menjadi orang yang bermanfaat bagi komunitasnya. Rasulullah saw telah menegaskan bahwa orang yang paling baik di antara kita adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda beliau,
عن جابر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلـم خير النّاس أنفعهم للناس ( رواه القضاعى)

Artinya  :    Dari Jabir, dia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Manusia paling baik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” (H.R. Al-Qadha’i).

C.     Husnuzh-Zhann terhadap Sesama Manusia
Hubungan baik antara manusia, khususnya antara mukmin yang satu dengan mukmin yang lain merupakan sesuatu yang harus dijalin dengan sebaik-baiknya. Karena Allah swt telah menggarisbawahi bahwa seluruh kaum mukmin adalah bersaudara.
Sebagaimana terungkap dalam firman Allah swt,
$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  
Artinya :    “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujurat/49:10).
Oleh karena itu, segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwwah (persaudaraan) harus dihilangkan. Agar hubungan, ukhuwwah islamiyah tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh-zhann (berbaik sangka).
Di antara kiat untuk menerapkan sifat husnuzh-zhann adalah tidak mempercayai bulat-bulat setiap informasi yang diterima. Apabila kita mendapatkan informasi negatif tentang sesuatu yang terkait dengan pribadi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun (pemeriksaan) terlebih dahulu sebelum mempercayai, apalagi meresponnya secara negatif. Allah swt berfirman,
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) óOä.uä!%y` 7,Å$sù :*t6t^Î/ (#þqãY¨t6tGsù br& (#qç7ŠÅÁè? $JBöqs% 7's#»ygpg¿2 (#qßsÎ6óÁçGsù 4n?tã $tB óOçFù=yèsù tûüÏBÏ»tR ÇÏÈ  
Artinya  :    “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat/49:6).

Selain bisa menjaga ukhuwwah islamiyyah, sifat husnuzh-zhann terhadap sesama juga memiliki banyak manfaat bagi pelakunya. Di antara manfaat yang dimaksud adalah :
1.            Terhindar dari penyesalan dalam menjalin hubungan dengan sesama.
2.            Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik.
3.            Selalu berbahagia atas kesuksesan yang dicapai orang lain, meskipun kita belum bisa mencapai kesuksesan tersebut.

Demikianlah seharusnya seorang muslim menghiasi dirinya dengan sifat husnuzh-zhann, baik kepada Allah swt, dirinya sendiri, maupun sesama manusia. Karena dengan demikian, hidup seorang muslim akan lebih berarti, baik di dunia maupun akhirat.
-----ooo000ooo-----


Peringatan Penting  : 2012 ???
Muhammad bin Ali berkata, “Sesungguhnya,Al-Mahdi yang kita nantikan itu memiliki dua mu’jizat yang belum pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi, bulan mengalami gerhana pada malam pertama bulan Romadlon, sedangkan matahari mengalami gerhana pada pertengahan bulan itu, dan kedua hal itu belum pernah terjadi semenjak Allah menciptakan langit dan bumi.”
Rosulullah saw, bersabda, “Pada bulan Romadlon terlihat tanda-tanda di langit, seperti tiang yang bersinar, pada bulan Syawal terjadi malapetaka, pada bulan Dzulqo’dah terjadi kemusnahan, pada bulan Dzulhijjah para jama’ah Haji dirampok, dan pada Muharrom, tahukah apakah Muharrom itu ?
Rosulullah saw, bersabda, “Akan ada suara dahsyat di bulan Romadlon, huru-hara di bulan Syawal, konflik antar suku di bulan Dzulqo’dah, dan pada tahun itu para jama’ah haji dirampok dan terjadi pembantaian besar di Mina dimana banyak orang terbunuh dan darah mengalir di sana, sedangkan pada saat itu mereka berada di Jumroh Aqobah.
Rosulullah saw, juga bersabda, “   Bila telah muncul suara di bulan Romadlon, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal.... “ Kami bertanya:” Suara apakah ya Rosulullah ?” Beliau menjawab:”Suara keras di pertengahan bulan Romadlon, pada malam Jum’at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jum’ah di tahun terjadinya banyak gempa. Masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubang (ventilasi)nya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian, Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka sujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: Subhanal Qudduus, Subhanal Qudduus, Robbunal Qudduus. Karena barang siapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi siapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa.
      Di ambil dari buku Huru-Hara Akhir Zaman hal 98-99

Tugas : 
1. Tugas Individu
                - Mengarang sebuah cerita bertema “ Husnudz-Dzonn kepada Allah”
            2. Diskusikan dan simpulkan, “apa yang terjadi bila seseorang meninggalkan sikap husnudz-dzonn”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar