Senin, 06 Januari 2014

Persatuan dan Kesatuan / XII Genap



A.  Persatuan dalam Islam
Banyak ayat Al-Qur’an dan sunnah yang menegaskan bahwa kaum muslimin wajib mewujudkan persatuan. Akan tetapi persatuan yang diinginkan dalam Islam bukanlah persatuan yang didasarkan pada ikatan fanatisme kelompok, kesusukuan, ataupun ikatan yang lainnya. Islam hanya menginginkan persatuan dikalangan umat yang didasarkan pada semangat nilai-nilai keislaman dan tauhid. Hal ini sebagaimana yang terungkap dalam firman-Nya : QS. Ali Imron : 103
  
Artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Umat Islam dewasa ini sangat jauh dari nilai-nilai ayat di atas. Hampir semua ulama dan cendikiawan muslim sedunia sepakat bahwa kaum muslimin saat ini menghadapi satu problema besar yaitu cerai berainya umat Islam.  Di sana-sini terjadi perpecahan di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, aliran faham agama. Padahal dengan persatuan sajalah berbagai problema umat Islam dapat diatasi.
Apabila kita merujuk pada sejarah umat Islam, dapat kita ketahui bagaimana pembentukan masyarakat madani pasca hijrah dari Mekah ke Medinah. Persatuan umat Islam pada waktu itu tidak lepas dari upaya Rosulullah saw untuk mempersatukan para shahabatnya yang berasal dari berbagai kabilah Arab. Keberhasilan Rosulullah saw pada waktu itu tidak hanya sebatas mempersatukan antar kabilah yang ada di Mekah, namun juga antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor. Persatuan yang dibentuk Rosululallah saw benar-benar didasarkan pada persaudaraan yang bersifat universal, yakni atas nama kalimat tauhid yang lebih dikenal dengan istilah Ukhuwah Islamiyah. Sebagai contoh, sahabat Bilal Al-Habasyi (Ethiopia), Shuhaib Ar-Rumi (Romawi), dan Salman Al-Farisi ( Persia ), dapat hidup berdampingan dan saling mendukung satu dengan yang lainnya.
Apa bila diperhatikan dengan saksama, perpecahan umat Islam dewasa ini, khususnya yang ada di Indonesia, tidak lain hanyalah disebabkan oleh kesalahpahaman kaum muslimin dalam menyikapi perbedaan yang terjadi. Seharusnya segala bentuk perbedaan yang demikian ini disikapi secara arif dan bijaksana. Selama perbedaan tersebut masih dalam koridor yang tidak melanggar batas-batas keyakinan (tauhid), hendaknya keberagaman tersebut dianggap sebagai berkah dan rohmad bagi kehidupan.
Bukankah perbedaan di antara manusia diciptakan sebagai ujian bagi kita ? Firman Alloh :
  
Artinya : “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu “ QS.Al-Maidah/5 : 48

Bisakah kita lulus dalam menghadapi ujian ? Seharusnya kita lebih arif dan bijaksana, dan ketahuilah, bahwa setiap manusia mempunyai latar belakang yang tidak sama, punya pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, dan punya kecerdasan akal yang tidak sama juga. Dengan demikian hendaknya kita sebagai kaum muslimin memandang fenomena perbedaan sebagi sesuatu yang lumrah terjadi. Renungkanlah sabda Rosululloh saw, “Perbedaan umatku adalah rohmat”. Oleh karena itu, perbedaan yang muncul merupakan sunnatulloh bagi manusia.
B.  Kerukunan Beragama

1.      Pengertian kerukunan Beragama
Kerukunan beragama jangan diartikan merukunkan ajaran agama-agama. Karena masing-masing agama pada hakekatnya memiliki klaim-klaim kebenaran yang berada pada wilayah yang sensitif. Hal ini sangat wajar karena pemelik agama memerlikan keyakinan doktrinal. Oleh karena itu, kerukunan beragama hendaklah diartikan kerukunan antar umat beragama. Dengan demikian, yang perlu dirukunkan bukan ajaran agamanya, tetapi umatnya, yang sama-sama satu bangsa. Di sinilah pentingnya sikap toleransi antarumat beragama.
Kata toleransi dalam bahasa Arab diistilahkan dengan tasamuh, yang artinya sikap saling menghargai, memberikan kesempatan untuk berprinsip maupun berideologi yang bertentangan dengan pendirian diri sendiri. Jadi tidak ada upaya memaksakan keyakinan kepada orang lain yang telah menganut suatu agama. Bahkan dalam kontek ini, apapun yang dilaksanakan oleh pemeluk agama tentu tidak dapat diganggu gugat atau dilarang atas nama sebuah keyakinan agama lain. Dalam hal ini Allah berfirman :
  
1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

2.  Kerukunan Intern Umat Beragama
            Antara seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saudara. Pengikat persaudaraan ini adalah keyakinan agama. Orang yang seagama berarti mempunyai Tuhan yang sama, Nabi yang sama dan tujuan hidup yang sama pula, yaitu ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Persaudaraan yang terjalin antara sesama umat Islam ini menyangkut seluruh sendi kehidupan, mulai dari masalah pribadi sam pai masalah sosial, ekonomi, dan bahkan sampai masalah kenegaraan. Di antara sesama muslim hendaklah saling kasih sayang, saling membantu dan saling [[diselesaikan secara bersama-sama, sehingga menjadi ringan. Dalam hal ini Rosululloh bersabda :
عن أبى موسى عن النبى صلى الله عليه و سلم قال: إنّ المؤمن للمؤمن كالبنيانِ يشدّ بعضه بعضا و شبّك أصابعه (رواه البخارى)
Artinya : Dari Abi Musa, dari Nabi saw, beliau bersabda” Sesungguhnya hubungan seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya itu, bagaikan kostroksi bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.” Lantas Rosullullah saw menjalin jari-jemarinya  [ untuk menunjukkan simbul persatuan persatuan orang mukmin]. ( HR. Al-Bukhori )
عن النعمان بن بشير قال :قال رسول الله صلى الله عليه و سلم مثل المؤمنين فى توادّهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عُضْوٌ تداعى له سائر الجسد بالسّهر والحمى (رواه البخارى ومسلم)
Artinya : “Dari Nu’man bin Basyir, dia berkata, Rosululloh saw bersabda :” Perumpamaan orang -orang yang beriman didalam cinta-mencintai, sayang menyayangi dan kasih mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit anggota-anggota tbuh yang lain ikut merasa-kannya, yaitu tidak bisa tidur dan merasa demam,” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
عن سالم عن أبيه أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: المسلم أخوالمسلم لايظلمه ولايسلمه ومن كان فى حاجة أخيه كان الله فى حاجته، ومن فرّج عن مسلم كربة فرّج الله عنه كربة من كربات يوم القيامة ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة  (رواه البخارى ومسلم) 
Artinya : Dari Salim dari ayahnya bahwa Rosululloh saw bersabda,” Muslim yang satu adalah saudara dengan muslim yang lain. Oleh karena itu, tidak boleh menganiaya dan membiarkannya. Barang siapa yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Alloh akan memperhatikan kepentingannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka Alloh akan melapangkan satu dari beberapa kesulitannya nanti pada hari Qiyamat,” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
            Hadits-hadits diatas diwujudkan oleh Rosululloh saw dan para shohabatnya baik di Mekah maupun di Madinah. Sewaktu beliau di Mekah banyak sekali para shohabat yang disiksa dan dianiaya oleh kafir Quroisy, shohabat yang lain membela dengan sekuat tenaga. Bilal bin Robbah disiksa oleh tuannya karena masuk Islam. Abu Bakar akhirnya yang menolong dengan membebaskannya dari status budak. Demikian juga Zubair bin Awam karena masuk Islam ia disiksa oleh pamannya. Namun shohabat yang lainnya pun juga menolongnya.
            Ketika Nabi Muhammad saw dan para shohabat hijrah ke Madinah, shohabat anshor bila punya rumah lebih dari satu diberikan kepada shohabat Muhajirin, demikian juga dalam hal makanan sampai dengan istri. Bila punya istri lebih dari satu, diceraikannya untuk kemudian agar diperistri shohabat muhajirin.
            Dengan persaudaraan yang diikat oleh agama, umat Islam pada waktu itu mempunyai persatuan yang kokoh, sehingga musuk takut menghadapinya. Pembinaan persatuan yang kokoh inilah yang menjadi kunci keberhasilan Rosullulloh saw dalam mengembangkan ajaran agama Islam di tengah-tengah masyarakat Arab.
Dari uraian di atas kiranya cukup untuk menggambarkan betapa pentingnya persatuan umat  Islam untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

3.  Kerukunan Antar Umat Beragama
            Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila. Ada beberapa agama yang resmi boleh hidup dan tumbuh di Indonesia, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budhs dan Khonghucu. Bagaimana sebenarnya pandangan Islam tentang kehidupan antar umat beragama ? Di dalam Islam tidak ada konsep permusuhan atau kebencian terhadap orang yang bukan seagama. Ajaran Islam berusaha menegakkan kehidupan beragama dalam suasana damai, rukun dan saling kerjasama dengan orang-orang walaupun bukan beragama islam.
            Hal ini telah dibuktikan oleh Rosululloh saw ketika beliau membentuk pemerintahan di kota Madinah. Pada waktu itu penduduk kota Madinah terdiri atas tiga golongan, yaitu Islam, Yahudi dan Kristen. Beliau menyatukan masyarakat dengan persamaan hak dan kemerdekaan beragama. Karena penganut Nasroni di Madinah pada waktu itu sedikit,maka perhatian Rosululloh saw banyak tercurah kepada golongan Yahudi. Beliau mengadakan perjanjian dengan mereka. Perjanjian itu dimaksudkan hanya untuk kepentingan dunia semata, tidak menyangkut permasalahan agama seperti masalah aqidah dan ibadah.

Isi perjanjian itu antara lain sebagai berikut :
a.  Seluruh penduduk Medinah merupakan satu kesatuan warga yang bebas berfikir dan melakukan ajaran agamanya masing-masing serta tidak boleh saling mengganggu.
b.   Apabila kota Madinah diserang musuk, kita harus mempertahankan bersama-sama.
c.   Apabila salah satu golongan diserang musuh, golongan yang lain harus membantunya.
d.   Jika timbul perselisihan, maka penyelesaiannya di bawah keadilan, yang dipimpin oleh Rosululloh saw.

            Dengan pembentukan masyarakat kota Madinah seperti ini, maka persatuan dan kesatuan dapat tercipta dengan kokoh dan dakwah Islamiyah dapat berjalan dengan sukses.
            Sebagai gambaran toleransi Islam terhadap golongan non-Islam, tercermin dalam cara-cara melakukan penyiaran agama Islam. Dakwah Islam tidak boleh dilaksanakan dengan kekerasan atau paksaan, tetapi harus dilaksanakan dengan cara yang halus, bijaksana, persuasif dan melalui proses dialogis dengan materi keutamaan memeluk agama Islam, keimanan Islam yang mudah dipahami secara logis, kesederhanaan dalam mengamalkan ibadah, dasar-dasar kesosilaan yang berprinsip saling menghormati, kesempurnaan ajaran Islam dan lain-lain.
            Diceritakan dalam sebuah kisah, bahwa salah shohabat dari golongan Anshor mempunyai dua orang anak yang beragama Nasroni. Shohabat tersebut datang kepada Rosululloh saw menanyakan apakah boleh memaksakan keduan anaknya untuk memeluk agama Islam ? setelah pertanyan itu selesai, turunlah ayat yang mengatakan ,bahwa tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam.
  
Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.QS.Al-Baqoroh / 2 : 256

               Dari ayat di atas tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam, akan tetapi ketika telah menjadi seorang muslim, maka wajib hukumnya melaksanakan ajaran agama Islam secara menyeluruh (kaffah), bukan hanya melaksanakan ajaran yang disenangi saja dengan dasar firman Allah swt :
  
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. QS.Al-Baqoroh/2:208

               Dengan demikian jelaslah bahwa toleransi Islam terhadap golongan non-Islam sangatlah tinggi. Tetapi ingat, bahwa toleransi ini hanya sebatas masalah keduniawian ( hal bekerja, belajar, bertetangga,berteman dan lain-lain ). Adapun yang terkait dengan masalah aqidah dan ibadah harus tetap sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

4.  Kerukunan Umat Beragama dengan Pemerintah.
           Pemerintah dalam agama diistilahkan dengan Ulil amri (yang memiliki kekuasaan atau urusan). Menurut para ulama ahli tafsir, ulil amri adalah orang-orang yang memegang kekuasaan. Pihak-pihak yang termasuk dalam kategori ulil amri bisa meliputi pihak pemerintah, alim ulama dan pemimpin lainnya. Dengan demikian ulil amri mengandung arti pemimpin dalam arti yang luas. Termasuk didalamnya pemimpin dalam arti politik / pemerintahan yang mengangani urusan-urusan keduniaan yang sering disebut dengan istilah umaro’ maupun tokoh keagamaan yang disebut juga dengan istilah ulama’.
           Apabila pemerintah telah menetapkan suatu kepetusan, umat Islam wajib menerima dan mematuhinya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Jika bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam, tidak dibenarkan untuk mematuhinya, bahkan wajib mengingatkan dan tidak menuruti perintah itu. Alloh swt berfirman :
    
 Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. QS.An-Niasa’/4:59.
           Jika semua lapisan masyarakat terutama umat beragama telah mematuhi peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah, diharapkan keamanan dan ketertiban akan terwujud. Dengan demikian pemerintah dapat memajukan kesejahteraan masyarakat. Bagi warga nagara juga dituntut untuk ikut serta membantu usaha pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat sesuai dengan keahlian di bidangnya masing-masing.
           Demikianlah Islam mengajarkan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.kaum muslimin tidak dibenarkan menciptakan permusuhan dengan orang yang tidak seiman dengannya, terlebih dengan sesama muslim. Walaupun berbeda suku bangsa dan agama, Islam tetap memerintahkan penganutnya untuk menjalin hubungan baik. Kkarena Alloh swt menciptakan keberagaman bukan untuk dijadikan sumber konflik, melainkan untuk dijadikan sebagai potensi yang bisa disatukan menjadi sebuah kekuatan bersama. Bahkan perbedaan itu bisa dijadikan ajang saling mengenal satu sama lain dan menambah rasa kasih sayang. Alloh swt telah berfirman : 

:”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. QS.Al-Hujurot / 49:13.

-------o0o0o0o------

مَوْلايَ صَلِّ وَ سَـلِّمْ دَائِـمًا اَبَدًا      #      عَلَى حَبِيْـبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّـهِمِ
هُوَ الْحَبِيْبُ الَّذِىْ تُرْجَى شَفَاعَـتُهُ     #       لِكُـلِّ هَوْلِ مِنَ الْاَهْوَالِ مُقـْتَحِمِ
يَارَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلـِّغْ مَقَاسِـدَنَا     #      وَاغْفـِرْلَنَا مَامَضَى يَاوَاسِعَ الْكَرَمِ

Maulaya solli wa sallim daiman abada,                        ala habibika koiril kolqi kullihimi,
Huwal habibulladzi turja syafa’atuhu,                          likulli hauliminal ahwali muqtahimi
Ya Robbi bil Mustofa balligh maqosidana,                   waghfirlana ma madlo ya Wasi’alkaromi

Junjunganku ! sholawat dan salam yang kekal abadi semoga Engkau limpahkan atas kekasih-Mu sebaik-baik dari semua ciptaan. Beliau adalah kekasih yang diharapkan pertolongannya untuk setiap perkara dari perkara-perkara yang besar lagi membahayakan. Wahai Tuhan ! Dengan berkah Nabi Pilihan sampaikanlah citacita kami dan ampunilah kami akan dosa-dosa yang telah lalu ! Wahai Dzat yang  Maha Luas Kemurahannya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar